Rentang kehidupan yang
kita jalani, tak pernah ada yang tahu. Bahkan untuk melewati hari esokpun hanya
menjadi rahasia sang pencipta Allah SWT. Hari terlewati terasa begitu cepat. Dengan
segala aktivitas yang kita lakukan, namun semua itu tak sekalipun menghilangkan
setiap jengkal kenangan yang pernah hadir dalam tiap nafas kehidupan kita.
40 hari lalu, tak tebersit akan mendapat berita duka. Memanglah
sekali lagi harus kita akui, kematian adalah salah satu rahasia besar Allah
SWT. Seorang gadis, entah anggapan yang lain tapi bagiku ia lebih dari seorang
tetangga. Sedari kecil menjadi teman sepermainan. Ella… biasa kami
memanggilnya.
40 hari berlalu, namun rasa kehilangan itu begitu terasa.
Pada tiap sudut rumah, ia banyak meninggalkan kenangan bagi kami sekeluarga. Gadis
manis, cantik, putih bahkan sifatnya pun sungguh mendukung wajah cantik nya. Sungguh
cantik. Tiap orang yang ia temui selalu bilang, Ella tak pernah meninggalkan
wajah jeleknya. Selalu senyuman manis renyah bersahabat. Ah, masih belum
sepenuhnya percaya. Sungguh luar biasa… Selalu juga meyakinkan hati, Alllah SWT
tahu yang terbaik untuk kita semua. Tapi sebagai manusia biasa, rasa kelukaan
hati lebih dari rasa patah hati. Begitu banyak masalah berat yang dilalui, tapi
kehilangan ini, sungguh menyayat hati.
Sekedar mengenang hal-hal kecil yang terjadi, menjadi
pengobat lara untuk diri sendiri. Dulu, sewaktu kecil… entah, akupun lupa apa
yang kami perebutkan tapi yang terakhir ku ingat, Ella memanjat pagar setinggi
pinggang orang dewasa, melintas ke sebelah menuju rumahku dan meraih tanganku. Tepat
dipergelangan tanganku ia menggigit kuat, berdarah dan membekas hingga hari
ini. Sewaktu ia masih disini, kami selalu memaksa mengingat kenapa hal itu bisa
terjadi. Sambil tertawa kami berdua pun lupa dengan inti dari kejadian gigitan
itu. Tapi bekasnya menjadi bukti kejadian itu ada. Dulu hal itu menjadi hal
lucu. Tapi sekarang, tiap mengoles tangan dengan handbody, melihat bekas itu
dipergelangan tangan, menjadi tangis sedih. Betapa bersyukurnya aku bekas itu
tak menghilang dari tubuhku. Biarlah, menjadi kenangan buatku sendiri.
Ella tak pernah membatasi diri dalam bergaul. Semakin dewasa
semakin ia memiliki banyak sahabat. Mungkin karena keramahannya. Semua orang
kehilangan sosoknya. Dia tidak peduli tengah malam saat orang sedang istirahat
pun, ia akan datang ke rumah kalau mau. Sekedar ngobrol bareng dede dwi, atau
mungkin minta atau pinjam sesuatu.
Ia juga tidak pernah mau anakku memanggilnya aunty. Mimi.
Mimi Ella. Sifatnya yang penyayang anak kecil membuat banyak anak kecil suka
pada nya termasuk Ryu, anakku. Bagi Ryu mimi nya sosok yang sangat baik. Sejak Rei
lahir, Ryu selalu dirumah Ella. Sejak Ryu belum bisa berjalan hingga hari ini
Ryu pergi ke rumah itu tanpa dijemput lagi. Ryu terlalu kecil untuk mengerti
kemana mimi nya pergi. Yang ia tahu, mimi nya berangkat ke luar kota. Ada pekerjaan.
Ryu menjadi bagian kecil dari hidup Ella. Sejak ia masih belum bisa berjalan,
Ella sibuk memaksakan diri mengurusnya. Minta pampers dan pakaian ganti di
rumah untuk memandikan Ryu di rumahnya. Dia sangat senang bersusah payah. Padahal,
selalu aku minta Ryu dikembalikan saja saat waktu mandi tiba. Tapi Ella selalu
bilang “enggak ah, entar anakku enggak dibalikin lagi abis mandi”. Hahaha…
kalau ingat hal itu, ingin tertawa kecil. Kadang aku bingung, Ryu itu anakku
atau anaknya mimi?
Aku tak pernah merasa bimbang Ryu berada lama disana
karena pasti diurus dengan baik olehnya. Tapi, aku bimbang kalau Ryu akan
terlalu merepotkannya. Bahkan terakhir sebelum kepergiannya yang sangat
tiba-tiba itu, ia sempat ke rumah, tepatnya sabtu sore dua hari sebelum ia tak
lagi ada bersama kita. Ia membantuku mengenakan pakaian untuk Ryu dan Rei
kemudian mengajak dua jagoan kecil itu ke rumahnya. Ia sempat bercanda dengan
Ryu dan Rei dikamar, menanyakan kapan abinya Ryu pulang ke Tarakan. Kembali lagi
itulah rahasia Allah SWT. Kita tak pernah tau kapan kita kembali menghadap-Nya.
Aku dan keluarga ku hanyalah bagian kecil yang
mendapatkan kenangan dari nya. Kenangan yang sangat manis. Saat ini, kami hanya
bisa membantu menghibur Ibu sebatas kemampuan kami. Menemaninya kala waktu
senggang walau hanya sekedar ngobrol agar sedikit terobati rasa sedihnya. Meski
tak kami pungkiri, kedatangan kami tak akan mengobati kesedihan itu dalam
jumlah banyak. Seculipun mungkin tak cukup. Kami yang hanya sekedar orang lain
bisa menangis dan merasa kehilangan luar biasa hingga hari ini, dan dengan
begitu kami bisa membaca perasaan hati Ibu yang pasti sangat luar biasa
sedihnya.
Terima kasih sudah menjadi bagian dari kehidupan kami ya, adik kecil. Tiap kenangan itu akan tetap tersimpan utuh di hati kami. tak akan hilang tergerus waktu kecuali kepikunan menghampiri kami.
Tenanglah disana, Mi… semoga Allah SWT melapangkan
kuburmu, menjauhkanmu dari siksa kubur dan diterima di sisi Allah SWT. Aamiin.
Inna Lillahi wa Inna
Illahi Roji’un
In Memoriam : Andi
Dayang Zamlai (Ella) binti Andi Nasir.