Dan betapa caranya
berbicara membuatku jatuh cinta…
Amira
beringsut memperbaiki duduknya, menghangatkan dirinya dari kepungan dinginnya
hari ini. Amira terus menatap keluar dan menatap jauh ke suatu tempat di sudut
sana.
“Caranya menatapku, memperlakukanku,
nada bicara yang diatur seirama dengan degupan penuh cinta. Sungguh kekasih
impian. Senyum yang selalu menyambut kedatanganku dengan kikuk yang tidak bisa
disembunyikan. Tapi dia bukan kekasihku. Bukan orang yang boleh aku miliki!”.
Tentu saja larangan keras itu terlihat sejak awal. Ada dinding berdiri kokoh
diantara mereka. Delima. Yah, Delima. Adik sepupu Amira yang menerima
perjodohan kerabat jauh mereka. Kerabat yang dulu, sewaktu kecil teman
sepermainan. Tian, Amira, dan Delima dulu adalah teman sepermainan, dulu sekali
ketika mereka tinggal di kota yang sama.
Seperti kisah-kisah klasik drama, cinta itu menerpa antara
dua insan. Cinta yang datang di akhir kisah. Cinta yang hadir diantara seorang
pangeran yang baru saja menemukan sang putri. Keberadaan Amira bukanlah
pengganggu untuk Delima. Mengingat betapa ia percaya sepenuh hati pada Amira,
menceritakan segala hal. Mereka lebih dari sekedar ikatan saudara sepupu, lebih
dari sekedar sahabat kecil. Tapi, salahkah perasaan Amira? Salahkah cinta yang
datang di tengah keadaan ini?
Tatapan mata Tian di sela keramaian menjadikan
guratan-guratan luka di hati yang begitu perih menusuk hingga ke jantung. Amira
mengerti. Sungguh Amira mengerti perasaannya. Senyuman yang bukan ketulusan
darinya ketika memasangkan cincin ke jari manis Delima sebagai tanda
pertunangan. Hanya Amira yang mengerti arti senyumnya. Tapi Amira juga
mengerti, Tian dan Amira tidak memiliki garis takdir untuk bersatu, menjalin
kehidupan cinta selayaknya yang begitu diimpikan.
Melihat senyum Delima merekah kemudian berjalan
beriringan bersama Tian ke arah Amira, menimbulkan rasa perih menyayat hati.
Mengingat perlakuan Tian pada Amira semalam yang menyelinap mengetuk jendela
kamar Amira melalui pintu samping.
“alangkah baiknya kita jujur sebelum esok” ujar Tian pada
Amira sedikit memaksa. Menggenggam tangan Amira dengan lembut dan hangat.
Genggaman yang bukan pertama kalinya sejak pertemuan mereka tiga bulan yang
lalu dalam acara perjodohan Tian dengan Delima.
Amira menggeleng pelan. Dia memang bodoh karena begitu
mudah jatuh cinta pada Tian. Mencintai caranya mencintai Amira. Tapi tidak akan
ia membiarkan kebodohannya mempermalukan keluarga besar mereka. Meruntuhkan
hati Delima yang begitu memuja Tian. Mencintainya dengan hati yang begitu
tulus. Mungkin setara dengan rasa cinta Amira pada Tian.
Tian
tak bergeming, terus menatap Amira dengan tatapan tanpa ekspresi. Hanya matanya
yang berbicara. Masih belum terlambat.
Pergilah bersamaku. Jangan pedulikan
semua ini!. Dan dari mata itu juga Tian mengerti jawaban Amira yang
sedikitpun takkan berubah. Jawaban yang sama. semata-mata demi nama baik
keluarga. Amira berlalu, meninggalkan Delima dengan banyak tanya di benaknya.
Meninggalkan keramaian yang seharusnya menjadikan sebuah kebahagiaan untuknya
karena Delima menemukan seseorang yang selalu ia inginkan.
Amira
masih terpaku, menatap keluar jendela kafe tempat ia duduk saat ini. Tetap dengan
guratan luka-luka yang baru saja ia bawa pergi.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih untuk waktu nya membaca blog saya :)
Mohon berikan komentar dengan bahasa yang baik yah...