First time produk kaos anak branded, tertarik dengan kerajinan yang aku buat... alhamdulillah... cukup menyenangkan. mereka ingin memberikan souvenir untuk pakaian yang mereka jual. udah rancang sana sini, ngobrolin desainnya, ini itu nya, akhirnya pilihannya jatuh kepada gantungan kunci berbentuk kaos dari flanel dengan logo dari produk mereka :)
pesenannya udah lama sih... tapi baru sempet posting sekarang karena kesibukan di sekolah... hehehe....
kira-kira gini nih penampakannya...
cukup lumayan lama juga pengerjaannya karena murni jahit tangan :) dibantuin Bunda, Dede ama Suami tercinta... semuanya jadi ringan... hihihi...
kali aja ada yang berminat juga kan ya buat souvenir :)
Senin, 06 Oktober 2014
Rabu, 01 Oktober 2014
My Little Customers (Yang berhasil dikumpulin)
udah lama banget niat pengen upload foto-foto pelanggan handmade, atau beberapa hasil karya yang aku punya. tapi kesempatannya selalu terlewatkan. terlebih kalo di sekolah pada sibuk buat soal UTS, UAN, Raport... (alasaaaaaannnnn)
pas nyari-nyari fotonya pelanggan ku yang pada imut-inut, eee lupa filenya kemana... jadi comot-comot aja deh via BBM ama Facebook... hihihi...
nih cekidooootttt.... siapa tau juga tertarik gitu kan pengen peseeeennn...
Serius lucu-lucu kaaaaannn... ada beberapa sih file yang gak nemuuu, ada yang pake warna ungu, kuning, hitam, putih, baby pink... hmmm.... nyesel gak buruan di upload hiks...hiks...hiks...
Kapan yah, bisa dipake'in ke anak sendiri? secara kan anakku pada handsome boys semuaaa... hehehe...
thanks for my little customers :*
pas nyari-nyari fotonya pelanggan ku yang pada imut-inut, eee lupa filenya kemana... jadi comot-comot aja deh via BBM ama Facebook... hihihi...
nih cekidooootttt.... siapa tau juga tertarik gitu kan pengen peseeeennn...
Serius lucu-lucu kaaaaannn... ada beberapa sih file yang gak nemuuu, ada yang pake warna ungu, kuning, hitam, putih, baby pink... hmmm.... nyesel gak buruan di upload hiks...hiks...hiks...
Kapan yah, bisa dipake'in ke anak sendiri? secara kan anakku pada handsome boys semuaaa... hehehe...
thanks for my little customers :*
Minggu, 28 September 2014
Terserah yang Tidak lagi menjadi kata Terserah!
Tiap
malam, kebiasaan buruk datang. LAPAR. Kalo udah laper mengeluh kesana kemari
seperti orang galau. Dan ada sebagian orang yang mengalami kegalauan seperti
ini. Entah malam, entah siang. Bukan cuma laper kali yah? Memutuskan segala
sesuatu juga kadang lebih banyak mikir dan akhirnya nggak punya kesimpulan yang
afdol. Hehehe… pernah ngalamin? Yang akhirnya kata “terserah” jadi senjata
ampuh tapi malah buat orang yang nerima kata-kata itu ngerutin dahi. Dan biasanya,
ini nih penyakit cewek. Kebanyakan sih, hihihi….
Nih,
kayak gini nih…
Cewek : Sayang, laper…
Cowok : iya, mau makan apa?
Cewek : eemm…. Terserah aja deh…
(jawaban ngambang, mata muter-muter kayak penari bali!)
Cowok : kok terserah? mau makan diluar?
Cewek : nggak ah, males jalan… warung
depan gang aja deh.
Cowok : nasi goreng lagi? (tawaran
pertama)
Cewek : (menggeleng) bosen!
Cowok : Sate?
Cewek : sambelnya nggak pedes, sayang…
Cowok : soto ayam? Atau mie ayam?
Cewek : nggak suka kuah-kuahan kalo
malem…
Cowok : nasi uduk?
Cewek : lauknya nggak enak…
Cowok : (mulai bosen) semua udah
disebutin… kalo semua nggak mau berarti nggak laper…
Cewek : (mikir… sunyi…) ya udah deh nasi
goreng pedes aja (sambil nyengir)
Hahaha…
pernah gitu? Kalo aku mah kayaknya sering… hehehe… buat suami dongkol dengan
beragam pilihan…
Kata
terserah yang ngga lagi jadi kata terserah.
Sebenarnya
semua itu simple sih. Si cowok, pengen aja jalan beliin sesuatu yang kita mau. Tapi
biasanya mereka itu pengennya, kita langsung punya kata perintah. Misalnya nih
yah, “yang, beliin ini dong, beliin itu dong”. Dan selama ini kitanya kan nggak
gitu… “yang pengen beliii… apa yah yang bagus yang? Terserah sayang deh…
etapii, ini bagus kali yah..”
Wkwkwk….
Lucu nggak sih…
Tapi
menurutku, dari yang aku alami, kata terserah yang spontan keluar tanpa mikir
itu sebenernya kita lagi mikir. Apa yang cocok, apa yang bagus, atau
pikiran-pikiran lain. Nah kalo cowok pengen cepet dengan keputusan kadang yah
gitu, nggak sabar dengan maunya kita apa. Keluar deh jurus ampuh “Terserah deh”
dan akhirnya kembali ke jawaban awal, yang dipilihin.
Gitu
aja muter-muter pake kata terserah yah…
Jadi,
sekarang mikirnya? Yah terserah aja deh… hehehe…
Jumat, 26 September 2014
Si Mbah Penjual Marning
![]() |
| Gambar Ilustrasi |
Jalan
besar arah menuju pulang ke rumah, ada penjual marning keliling. Lelaki cukup
tua, bersepeda. Diatas sepedanya dibuatkan kotak besar, tempat Ia menaruh bahan
dagangannya. Kakek tua itu berjualan marning. Ada beberapa jenis kacang juga. Katanya
di goreng menggunakan pasir. Harganya cukup terjangkau. Entah, apakah sudah
terbayar dengan usahanya yang selalu mendorong sepedanya itu atau tidak.
Tiap
pulang dari kantor atau jalan sore, aku selalu menyempatkan untuk
menyinggahinya. Sekedar membeli satu atau dua bungkus. Bukan karena iba, bukan!
Bukan juga berniat sedekah, karena beliau tidak meminta-minta. Kalaupun memang
terhitung dalam sedekah, biarlah Allah SWT yang menghitung amalanku. Aamiin.
Tiap
melihat si mbah itu (aku memanggilnya mbah karena beliau Jawa) aku selalu
teringat almarhum Kai (baca: Kakek). Aku cukup lama tinggal bersama Kai. Sejak masih
merah, sampai SMP kelas 1. Kai dulu seorang pedagang sayur. Beliau punya warung
kecil-kecilan. Pukul 3 pagi, ketika ayam hanya berkokok 2-3 kali, Kai dan Ma
uwo (baca: Nenek) bersiap shalat Tahajud. Setelah siap, mereka bersiap
mengambil keranjang besar dan di ambin seperti penjual jamu, tapi bedanya ada
pengait seperti ransel. Seingatku, keranjang itu besar banget. Aku kecil pun
sepertinya masuk ke dalam situ. Tubuh kecil Kai nyaris tak terlihat bila
mengambin keranjang itu. Mereka berjalan kaki menuju pasar yang lumayan jauh. Seharusnya
bisa saja mereka naik angkot yang memang selalu tersedia dini hari seperti itu,
karena memang banyak pedagang yang keluar jam segitu menuju pasar besar yang
dulu kami sebut pasar simpang tiga.
Sesekali
waktu, almarhum Kai mengajakku ke pasar. Biasanya hari minggu, aku
diperbolehkan ikut, karena pulang dari pasar aku boleh tidur lagi. Hehehe…
Yang
aku ingat, sepanjang berjalan menuju pasar, Kai selalu bercerita. Tentang apa
saja. Tanpa lelah, Beliau menggandeng tanganku. Ma Uwo selalu mengikuti sambil
membelai-belai pipi buntalku supaya tidak kedinginan. Sampai di pasar,
orang-orang sudah rame banget (namanya pasar ya rame kan ya, hihihi) Kai tidak
lama keliling karena dia sudah punya tempat beli sayur yang langganan sedari
muda. Tinggal comot sana, comot sini, bayar sana, bayar sini. Banyak juga yang
mengenaliku. Karena hampir setiap minggu aku ikut. Kecuali hujan, Kai tidak mau
aku kehujanan.
Biasanya,
setelah usai belanja kami singgah ke warung kopi yang terletak di tengah pasar.
Tanpa ditanya, penjualnya sudah hafal semua yang diminta pedagang disana. Aku dan
Ma uwo kopi susu, Kai biasanya Teh dengan warna merah pekat tanpa gula. Kalau pulang
dari pasar biasanya kami naik satu-satunya angkot yang ada pada jam segitu. Angkot
yang supirnya orang cina. Seumuran Kai dan sangat ramah. Dia pun hampir
mengenal semua pedagang pasar karena cuma dia yang bersedia mengantar
orang-orang belanja dini hari.
Dari
beberapa kenangan itulah yang membuat hatiku selalu tergerak untuk membeli
marning-marning si mbah. Kai pernah bilang, sesulit apapun hidup kita, muda
atau tua, lebih baik berusaha. Jangan pernah memanfaatkan tubuh renta untuk
meminta-minta. Apalagi kalau masih kuat. Dan Si Mbah Penjual Marning itu, membuat ku melihat sosok Kai. Dia masih
merasa kuat untuk bekerja, entah dia kekurangan atau hanya mencari kesibukan di
masa tua, tapi beliau tetap bersemangat untuk berusaha.
Aku
juga selalu ingat, pukul 3 sore, Kai selalu membungkus beberapa sayuran dan
memberikannya pada tetangga yang kekurangan, atau yang tak sengaja lewat di
depan warung. Saat aku tanya, kenapa diberikan cuma-cuma? Dia tidak pernah
sekalipun menjawab sedekah, atau kasihan orang itu. Kai hanya menjawab,
sayurnya masih segar, kalau besok layu udah ga bisa dijual. Jadi biarlah buat
makan malam mereka. Padahal tiap aku membantu menyusun sayuran pagi hari,
beliau selalu menyisakan 2-3 ikat sayur dalam keranjang. Jadi sayuran yang
diberikan bukan sayur sisa atau yang tidak laku.
Terima
kasih ajaranmu tentang kehidupan ya, Kai. Si Mbah Penjual Marning, semoga Allah
SWT selalu memberikan rezeki yang barokah buatmu. Aamiin.
Al-Fatihah
buat Kai Passingar J
Senin, 15 September 2014
Durian tanpa musim...
Hujan seharian mengguyur kota kecilku. Dinginnya terasa menusuk hingga ke tulang. Hari begini, enaknya duduk dirumah, menikmati minuman hangat sembari memandangi ricuhnya jagoan kecil ku yang rebutan mainan, walaupun mainannya selalu dibelikan sepasang.
Tapi itu hanya
khayalanku. Waktu menunjukkan pukul dua siang. Aku baru melangkahkan kaki
keluar kantor. Cuaca mendung, suara alunan ayat suci dari masjid dekat kantor,
membawa suasana seperti menjelang magrib. Senja tanpa matahari.
Kali ini, aku melajukan
kendaraanku menuju K*C. Kakak Ryu pesan menu si kecil. Bukan makanannya, yah
lebih tepatnya mainan edisi terbarunya. Selalu begitu. Hihihi… anak-anak…
sepanjang perjalanan, aku mengendarai kendaraanku dengan santai. Selalu ingat
pesan bunda, kita enggak kehujanan. Buat apa melaju kencang laksana raja
pemilik jalan? Kita pernah ngerasain cipratan mobil-mobil berkelas, yang kadang
seenaknya melaju di derasnya hujan. Sampai hari ini pun aku selalu
bertanya-tanya, apa sih untungnya melaju di tengah derasnya hujan? Apa mau
membanggakan kepunyaan mereka? Aku selalu merasakan itu seperti melakukan hal
yang sia-sia.
Sepanjang trotoar, buah
durian, cempedak, langsat, duku, elai dan… mata kucing, berderet rapi di bawah
tenda-tenda pedagang kaki lima. Bulan-bulan agustus sampai oktober awal,
biasanya di kota ku musim buah berganti. Wanginya semerbak sepanjang jalan. Aku
selalu menyukai aroma durian. Buah kesukaanku. Sebagian orang enggak suka buah
ini, katanya wanginya memabukan, makan banyak bikin mual, dll. Tapi anehnya,
tidak berlaku buatku. Berapapun, rasanya belum puas dan selalu ingin makan
lagi. Hehehe… (maruk!)
Melihat durian-durian
itu, kembali mengingatkan memori ku 5 tahun lalu. Di kota yang kujuluki durian
tanpa musim. Hihihi, ini atas pemikiran ku sendiri. Samarinda. Aku tidak
tinggal disana, pun tidak punya keluarga di sana. Tapi, dari sanalah jodohku
hadir. Suamiku, Abi dari anak-anak ku. Karena pekerjaannya mengharuskan dia
tinggal di Samarinda, alhasil kami sempat 6 bulan bolak-balik
Tarakan-Samarinda. Sampai akhirnya, suamiku memutuskan untuk mengajukan pindah
ke Tarakan. Karna, semua ada disini. Keluargaku, mertua dan saudara-saudara
kami.
Banyak kenangan
tersimpan walaupun singkat. Kota itu selalu ku rindukan. Kota yang menjadi
saksi cinta kami bersemi (hihihi… kita nikahnya ta’aruf, sih ya). Di sana juga
akhirnya aku tau suamiku enggak suka durian. Beberapa kali aku memintanya
menemaniku makan atau beli durian. Tapi dia punya seribu alasan untuk
menghindar. Dan selalu, aku makan durian bersama teman SMA ku yang kuliah di
sana. Mereka selalu bersedia menemaniku bila waktu luang.
Bila ada kesempatan,
aku selalu berharap bisa kembali kesana. Bukan karena enggak suka kota lain. Tapi
hanya sekedar ingin kembali merenda kenangan manis bersama suamiku. Semanis durian
tanpa musim di tepian Samarinda.
Minggu, 07 September 2014
Bapak Tua Itu...
Beberapa hari lalu, sabtu sore tepatnya. Aku janji untuk bawa para jagoan kecilku ke taman. Terlihat di kejauhan mereka asik bermain bersama abinya. bahagia rasanya ngeliatin anak-anak segembira itu.
"Senang ya, mereka masih lucu-lucu" tiba-tiba aja keluar suara sedikit berat dan bergetar dari sampingku.
Seorang bapak yang usianya sekitar 70-an menurutku. pakaiannya cukup casual, kaos oblong, celana pendek, dibawah lutut. sandal jepit dari kulit. kalo diliat dari model pakaian, sudah pasti bapak ini dari kalangan orang berada. ditangan kirinya memegang kunci mobil dan handphone android masa kini.
Walaupun sepertinya terlihat masih gagah, garis kulit dan wajah beliau memang memperlihatkan usia beliau.
Aku tersenyum dan mengangguk saat beliau mengucapkan kata-kata itu. mungkin beliau merindukan cucu-cucunya yang entah dimana.
"Apa do'amu, nak buat mereka?" tanyanya lagi.
"hmm.. tentu menjadi anak yang baik, sopan, jujur, taat beragama, membanggakan dan tidak membuat hal yang memalukan di keluarga dan masyarakat tentunya, pak." jelasku. kulihat beliau mengangguk. tersenyum. dan hening.
"semua orang tua akan begitu, nak. kita bekerja cukup keras agar mereka seperti anak-anak lain, agar mereka selalu berkecukupan, agar kelak mereka bisa berdiri tegak saat kita sudah tak lagi ada." ujar beliau sambil menerawang. entah apa yang diingatnya. kalau tebakanku, mungkin kenangan masa lalu bersama anak-anaknya.
"tiap orang pasti pernah mengalami masa sulit, nak. dulu, anak pertama sampai anak keempat bapak lahir dalam keadaan sulit. mereka lahir dirumah, tapi yang terakhir di rumah sakit loh. tapi dia juga yang lebih dulu menghadap Allah SWT." dia berujar dengan mata yang berkaca-kaca.
"innalillahi..."
"iya, sakit yang terlambat kami ketahui. karna anak itu pendiam, jarang ngeluh, kadang punya harta banyak gak buat kita serta merta bisa lakukan apapun. bahkan untuk anak sendiri" sesalnya.
"itu sudah janji anak bapak" jawab ku tersenyum untuk membesarkan hati beliau. beliau pun tersenyum dan mengangguk.
Bapak tua itu banyak cerita tanpa ditanya. mungkin beliau memang butuh teman untuk berkeluh kesah. sepanjang kami duduk berdampingan, banyak hal yang aku dapat dari bapak itu. anak pertamanya, bisnis jual beli kayu, anak keduanya kini di bandung, pengusaha konveksi, anak ketiganya seorang pegawai negeri, dan keempat satu-satunya anak perempuannya setelah yang bungsu meninggal, kini menjadi POLWAN.
Kalau dilihat dari cerita singkatnya, bapak ini termasuk berhasil mendidik anak-anaknya hingga bisa menjadi orang-orang berguna. tapi raut kesedihan diwajahnya tak bisa ia sembunyikan.
"teruslah dekat dengan anak-anakmu itu, nak. sampai mereka besar, sampai mereka bisa berdiri dikehidupan mereka sendiri, tapi tak pergi jauh darimu"
"Inshaallah, pak" angguk ku.
"Saya ini kaya loh, nak. uang saya banyak di bank. milyaran, loh" katanya setengah tertawa.
"oh ya, pak" sambutku tersenyum nyaris tertawa kecil kaget dengan pernyataan beliau.
"Tapi, apa guna kita kaya, nak? saya berfikir, kaya begini saja saya gak pernah dijenguk, hanya karna anak-anak itu sibuk. apalagi kalau saya miskin tak berharta?"
Hening. aku tercenung dengan pernyataan beliau. aku terdiam menatap bapak tua itu. beliau menerawang, matanya berkaca-kaca, ada setetes airmatanya, tepat diujung matanya. kemudian beliau menghapusnya. berdiri menuju penjual balon gas, membeli 2 buah balon berbentuk angry bird dan doraemon. kemudian menuju kedua jagoanku yang asik bermain ayunan. memberikannya pada anak-anakku seraya membelai kepala mereka. tanpa sadar aku meneteskan airmata. Membalas lambaian tangan bapak tua itu yang hendak pamit. kulihat langkah kaki tuanya menuju mobil sport yang ku perkirakan harganya 3x lipat mobilku saat ini. dan berlalu. meninggalkanku di tempat duduk taman. dalam hening. dalam do'a, semoga kelak anak-anakku tetap seperti saat ini. Aamiin.
"Senang ya, mereka masih lucu-lucu" tiba-tiba aja keluar suara sedikit berat dan bergetar dari sampingku.
Seorang bapak yang usianya sekitar 70-an menurutku. pakaiannya cukup casual, kaos oblong, celana pendek, dibawah lutut. sandal jepit dari kulit. kalo diliat dari model pakaian, sudah pasti bapak ini dari kalangan orang berada. ditangan kirinya memegang kunci mobil dan handphone android masa kini.
Walaupun sepertinya terlihat masih gagah, garis kulit dan wajah beliau memang memperlihatkan usia beliau.
Aku tersenyum dan mengangguk saat beliau mengucapkan kata-kata itu. mungkin beliau merindukan cucu-cucunya yang entah dimana.
"Apa do'amu, nak buat mereka?" tanyanya lagi.
"hmm.. tentu menjadi anak yang baik, sopan, jujur, taat beragama, membanggakan dan tidak membuat hal yang memalukan di keluarga dan masyarakat tentunya, pak." jelasku. kulihat beliau mengangguk. tersenyum. dan hening.
"semua orang tua akan begitu, nak. kita bekerja cukup keras agar mereka seperti anak-anak lain, agar mereka selalu berkecukupan, agar kelak mereka bisa berdiri tegak saat kita sudah tak lagi ada." ujar beliau sambil menerawang. entah apa yang diingatnya. kalau tebakanku, mungkin kenangan masa lalu bersama anak-anaknya.
"tiap orang pasti pernah mengalami masa sulit, nak. dulu, anak pertama sampai anak keempat bapak lahir dalam keadaan sulit. mereka lahir dirumah, tapi yang terakhir di rumah sakit loh. tapi dia juga yang lebih dulu menghadap Allah SWT." dia berujar dengan mata yang berkaca-kaca.
"innalillahi..."
"iya, sakit yang terlambat kami ketahui. karna anak itu pendiam, jarang ngeluh, kadang punya harta banyak gak buat kita serta merta bisa lakukan apapun. bahkan untuk anak sendiri" sesalnya.
"itu sudah janji anak bapak" jawab ku tersenyum untuk membesarkan hati beliau. beliau pun tersenyum dan mengangguk.
Bapak tua itu banyak cerita tanpa ditanya. mungkin beliau memang butuh teman untuk berkeluh kesah. sepanjang kami duduk berdampingan, banyak hal yang aku dapat dari bapak itu. anak pertamanya, bisnis jual beli kayu, anak keduanya kini di bandung, pengusaha konveksi, anak ketiganya seorang pegawai negeri, dan keempat satu-satunya anak perempuannya setelah yang bungsu meninggal, kini menjadi POLWAN.
Kalau dilihat dari cerita singkatnya, bapak ini termasuk berhasil mendidik anak-anaknya hingga bisa menjadi orang-orang berguna. tapi raut kesedihan diwajahnya tak bisa ia sembunyikan.
"teruslah dekat dengan anak-anakmu itu, nak. sampai mereka besar, sampai mereka bisa berdiri dikehidupan mereka sendiri, tapi tak pergi jauh darimu"
"Inshaallah, pak" angguk ku.
"Saya ini kaya loh, nak. uang saya banyak di bank. milyaran, loh" katanya setengah tertawa.
"oh ya, pak" sambutku tersenyum nyaris tertawa kecil kaget dengan pernyataan beliau.
"Tapi, apa guna kita kaya, nak? saya berfikir, kaya begini saja saya gak pernah dijenguk, hanya karna anak-anak itu sibuk. apalagi kalau saya miskin tak berharta?"
Hening. aku tercenung dengan pernyataan beliau. aku terdiam menatap bapak tua itu. beliau menerawang, matanya berkaca-kaca, ada setetes airmatanya, tepat diujung matanya. kemudian beliau menghapusnya. berdiri menuju penjual balon gas, membeli 2 buah balon berbentuk angry bird dan doraemon. kemudian menuju kedua jagoanku yang asik bermain ayunan. memberikannya pada anak-anakku seraya membelai kepala mereka. tanpa sadar aku meneteskan airmata. Membalas lambaian tangan bapak tua itu yang hendak pamit. kulihat langkah kaki tuanya menuju mobil sport yang ku perkirakan harganya 3x lipat mobilku saat ini. dan berlalu. meninggalkanku di tempat duduk taman. dalam hening. dalam do'a, semoga kelak anak-anakku tetap seperti saat ini. Aamiin.
Selasa, 13 Mei 2014
My New Sewing Machine... uhuhuhuuuu...
seneng banget kalo lagi bicarakan hal satu ini... hihihi... kepengen banget punya mesin jahit sejak 2 tahun lalu (padahal waktu itu gag bisa jahit sama sekali :D). Di rumah nenek tuh ada sih mesin jahit dari jaman aku belum lahir, hehehehe... tapi udah gag bisa dipakai, entah kenapa gitu... sayang aja sekarang cuma jadi pajangan aja deh...
mesin jahit mini... ya karena kan masih pemula juga. yang kedua alasannya pilih mesin jahit mini ya dananya belum ada beli yang gedean, hahahaha...
tapi emang bener seneng banget... ngebantu hayalan-hayalan aku yang kemarin-kemarin sih ya. pengen buat ini itu tapi gag ada mesinnya.. alhamdulillah deh dapet sekarang...
semalem pas nih mesin jahit datang, cuma di pandangin doang. entah seneng atau apa gitu, wkwkwkwk.... tiba-tiba ilang ide mau ngapain... hihiihi... ups, tapi gag selama itu juga sih bengongnya. hari ini udah ada ide mesinnya mau di apakan :D
mudah-mudahan mesin ini bantu semua kerjaan ku biar bisa terselesaikan dengan baik... aamiin...
mesin jahit mini... ya karena kan masih pemula juga. yang kedua alasannya pilih mesin jahit mini ya dananya belum ada beli yang gedean, hahahaha...
tapi emang bener seneng banget... ngebantu hayalan-hayalan aku yang kemarin-kemarin sih ya. pengen buat ini itu tapi gag ada mesinnya.. alhamdulillah deh dapet sekarang...
semalem pas nih mesin jahit datang, cuma di pandangin doang. entah seneng atau apa gitu, wkwkwkwk.... tiba-tiba ilang ide mau ngapain... hihiihi... ups, tapi gag selama itu juga sih bengongnya. hari ini udah ada ide mesinnya mau di apakan :D
mudah-mudahan mesin ini bantu semua kerjaan ku biar bisa terselesaikan dengan baik... aamiin...
kurang lebih gini nih penampakannya :D googling aja, soalnya gag sempet di foto semalem hihihi...
Senin, 12 Mei 2014
Baby Headband... bunga-bunga dimana-mana :D
Menyenangkan banget kalo udah ada yang pesen bandana baby... buatnya berasa lucu aja sambil ngebayangin anak cewek lagi make ini bandana di kepala botaknya hihihi...
belum sempet sih upload foto-foto dede-dede customer yang udah dengan senang hati berbagi fotonya buat saya :) ntar di upload ke Part 2 aja yah...
bandana ungu polka
bandana putih
bandana yellow flower
Lucu ya kalo udah dipake'in di kepala baby yang kecil terus botak unyu-unyu gitu... hihihihi...
Minggu, 11 Mei 2014
Ikutan GA yang pertama (hayano handmade: MAY GIVEAWAY sponsored by : Apuu handmade)
hayano handmade: MAY GIVEAWAY sponsored by : Apuu handmade: postingan gembira di bulan mei ini :) GIVEAWAY !!!! horaaay :) may giveaway kali ini bersama apuu hand made :) mbak bimbi...
1st orderan Luar Provinsi
Allohaaaaaaa...
ihhh... alhamdulillah minggu-minggu ini minggu sibuk... lagi mikirin ide kreatif pesenan souvenir dari "kaos muslim anak". gak nyangka banget dilirikin pengusaha besar.. mudah-mudahan berkelanjutan ya.. aamiin.
yang pastinya nih, gag sabar pengen utak atik peralatan.
selesaikan dulu soal-soal ulangan buat kenaikan kelas murid-murid kesayangan ku... setelah itu baru deh lanjutin orderannya... semoga hasilnya memuaskan terus order lagi. :)
ihhh... alhamdulillah minggu-minggu ini minggu sibuk... lagi mikirin ide kreatif pesenan souvenir dari "kaos muslim anak". gak nyangka banget dilirikin pengusaha besar.. mudah-mudahan berkelanjutan ya.. aamiin.
yang pastinya nih, gag sabar pengen utak atik peralatan.
selesaikan dulu soal-soal ulangan buat kenaikan kelas murid-murid kesayangan ku... setelah itu baru deh lanjutin orderannya... semoga hasilnya memuaskan terus order lagi. :)
Kamis, 08 Mei 2014
Sandal Cantik kuuu... (Versi aku... hehehe)
baruuuu bisa buka leppy... ini juga baru bisa ngeliatin satu karya dari beberapa karya (ceileeee... karya..) yang udah aku buat.
hmmm... banyak orderan yang alhamdulillah membuatku semakin banyak mengeluarkan banyak inspirasi... sandal ini awalnya buatin adik yang lagi bingung ama sandal buluk kesayangannya.. hihihi...
akhirnya malah jadi keterusan buatin ordean :D
hmmm... banyak orderan yang alhamdulillah membuatku semakin banyak mengeluarkan banyak inspirasi... sandal ini awalnya buatin adik yang lagi bingung ama sandal buluk kesayangannya.. hihihi...
akhirnya malah jadi keterusan buatin ordean :D
Langganan:
Komentar (Atom)













.jpg)
.jpg)
.jpg)





