Senin, 06 Oktober 2014

Orderan dari Bandung "Kids Muslim... Kaos Anak"

First time produk kaos anak branded, tertarik dengan kerajinan yang aku buat... alhamdulillah... cukup menyenangkan. mereka ingin memberikan souvenir untuk pakaian yang mereka jual. udah rancang sana sini, ngobrolin desainnya, ini itu nya, akhirnya pilihannya jatuh kepada gantungan kunci berbentuk kaos dari flanel dengan logo dari produk mereka :)

pesenannya udah lama sih... tapi baru sempet posting sekarang karena kesibukan di sekolah... hehehe....

kira-kira gini nih penampakannya...




cukup lumayan lama juga pengerjaannya karena murni jahit tangan :) dibantuin Bunda, Dede ama Suami tercinta... semuanya jadi ringan... hihihi...

kali aja ada yang berminat juga kan ya buat souvenir :)

Rabu, 01 Oktober 2014

My Little Customers (Yang berhasil dikumpulin)

udah lama banget niat pengen upload foto-foto pelanggan handmade, atau beberapa hasil karya yang aku punya. tapi kesempatannya selalu terlewatkan. terlebih kalo di sekolah pada sibuk buat soal UTS, UAN, Raport... (alasaaaaaannnnn)

pas nyari-nyari fotonya pelanggan ku yang pada imut-inut, eee lupa filenya kemana... jadi comot-comot aja deh via BBM ama Facebook... hihihi...

nih cekidooootttt.... siapa tau juga tertarik gitu kan pengen peseeeennn...









Serius lucu-lucu kaaaaannn... ada beberapa sih file yang gak nemuuu, ada yang pake warna ungu, kuning, hitam, putih, baby pink... hmmm.... nyesel gak buruan di upload hiks...hiks...hiks...

Kapan yah, bisa dipake'in ke anak sendiri? secara kan anakku pada handsome boys semuaaa... hehehe...


thanks for my little customers :* 

Minggu, 28 September 2014

Terserah yang Tidak lagi menjadi kata Terserah!

Tiap malam, kebiasaan buruk datang. LAPAR. Kalo udah laper mengeluh kesana kemari seperti orang galau. Dan ada sebagian orang yang mengalami kegalauan seperti ini. Entah malam, entah siang. Bukan cuma laper kali yah? Memutuskan segala sesuatu juga kadang lebih banyak mikir dan akhirnya nggak punya kesimpulan yang afdol. Hehehe… pernah ngalamin? Yang akhirnya kata “terserah” jadi senjata ampuh tapi malah buat orang yang nerima kata-kata itu ngerutin dahi. Dan biasanya, ini nih penyakit cewek. Kebanyakan sih, hihihi….

Nih, kayak gini nih…

Cewek : Sayang, laper…
Cowok : iya, mau makan apa?
Cewek : eemm…. Terserah aja deh… (jawaban ngambang, mata muter-muter kayak penari bali!)
Cowok : kok terserah? mau makan diluar?
Cewek : nggak ah, males jalan… warung depan gang aja deh.
Cowok : nasi goreng lagi? (tawaran pertama)
Cewek : (menggeleng) bosen!
Cowok : Sate?
Cewek : sambelnya nggak pedes, sayang…
Cowok : soto ayam? Atau mie ayam?
Cewek : nggak suka kuah-kuahan kalo malem…
Cowok : nasi uduk?
Cewek : lauknya nggak enak…
Cowok : (mulai bosen) semua udah disebutin… kalo semua nggak mau berarti nggak laper…
Cewek : (mikir… sunyi…) ya udah deh nasi goreng pedes aja (sambil nyengir)


Hahaha… pernah gitu? Kalo aku mah kayaknya sering… hehehe… buat suami dongkol dengan beragam pilihan…

Kata terserah yang ngga lagi jadi kata terserah.
Sebenarnya semua itu simple sih. Si cowok, pengen aja jalan beliin sesuatu yang kita mau. Tapi biasanya mereka itu pengennya, kita langsung punya kata perintah. Misalnya nih yah, “yang, beliin ini dong, beliin itu dong”. Dan selama ini kitanya kan nggak gitu… “yang pengen beliii… apa yah yang bagus yang? Terserah sayang deh… etapii, ini bagus kali yah..”

Wkwkwk…. Lucu nggak sih…
Tapi menurutku, dari yang aku alami, kata terserah yang spontan keluar tanpa mikir itu sebenernya kita lagi mikir. Apa yang cocok, apa yang bagus, atau pikiran-pikiran lain. Nah kalo cowok pengen cepet dengan keputusan kadang yah gitu, nggak sabar dengan maunya kita apa. Keluar deh jurus ampuh “Terserah deh” dan akhirnya kembali ke jawaban awal, yang dipilihin.

Gitu aja muter-muter pake kata terserah yah…


Jadi, sekarang mikirnya? Yah terserah aja deh… hehehe…

Jumat, 26 September 2014

Si Mbah Penjual Marning


Gambar Ilustrasi

Jalan besar arah menuju pulang ke rumah, ada penjual marning keliling. Lelaki cukup tua, bersepeda. Diatas sepedanya dibuatkan kotak besar, tempat Ia menaruh bahan dagangannya. Kakek tua itu berjualan marning. Ada beberapa jenis kacang juga. Katanya di goreng menggunakan pasir. Harganya cukup terjangkau. Entah, apakah sudah terbayar dengan usahanya yang selalu mendorong sepedanya itu atau tidak.

Tiap pulang dari kantor atau jalan sore, aku selalu menyempatkan untuk menyinggahinya. Sekedar membeli satu atau dua bungkus. Bukan karena iba, bukan! Bukan juga berniat sedekah, karena beliau tidak meminta-minta. Kalaupun memang terhitung dalam sedekah, biarlah Allah SWT yang menghitung amalanku. Aamiin.

Tiap melihat si mbah itu (aku memanggilnya mbah karena beliau Jawa) aku selalu teringat almarhum Kai (baca: Kakek). Aku cukup lama tinggal bersama Kai. Sejak masih merah, sampai SMP kelas 1. Kai dulu seorang pedagang sayur. Beliau punya warung kecil-kecilan. Pukul 3 pagi, ketika ayam hanya berkokok 2-3 kali, Kai dan Ma uwo (baca: Nenek) bersiap shalat Tahajud. Setelah siap, mereka bersiap mengambil keranjang besar dan di ambin seperti penjual jamu, tapi bedanya ada pengait seperti ransel. Seingatku, keranjang itu besar banget. Aku kecil pun sepertinya masuk ke dalam situ. Tubuh kecil Kai nyaris tak terlihat bila mengambin keranjang itu. Mereka berjalan kaki menuju pasar yang lumayan jauh. Seharusnya bisa saja mereka naik angkot yang memang selalu tersedia dini hari seperti itu, karena memang banyak pedagang yang keluar jam segitu menuju pasar besar yang dulu kami sebut pasar simpang tiga.

Sesekali waktu, almarhum Kai mengajakku ke pasar. Biasanya hari minggu, aku diperbolehkan ikut, karena pulang dari pasar aku boleh tidur lagi. Hehehe…
Yang aku ingat, sepanjang berjalan menuju pasar, Kai selalu bercerita. Tentang apa saja. Tanpa lelah, Beliau menggandeng tanganku. Ma Uwo selalu mengikuti sambil membelai-belai pipi buntalku supaya tidak kedinginan. Sampai di pasar, orang-orang sudah rame banget (namanya pasar ya rame kan ya, hihihi) Kai tidak lama keliling karena dia sudah punya tempat beli sayur yang langganan sedari muda. Tinggal comot sana, comot sini, bayar sana, bayar sini. Banyak juga yang mengenaliku. Karena hampir setiap minggu aku ikut. Kecuali hujan, Kai tidak mau aku kehujanan.

Biasanya, setelah usai belanja kami singgah ke warung kopi yang terletak di tengah pasar. Tanpa ditanya, penjualnya sudah hafal semua yang diminta pedagang disana. Aku dan Ma uwo kopi susu, Kai biasanya Teh dengan warna merah pekat tanpa gula. Kalau pulang dari pasar biasanya kami naik satu-satunya angkot yang ada pada jam segitu. Angkot yang supirnya orang cina. Seumuran Kai dan sangat ramah. Dia pun hampir mengenal semua pedagang pasar karena cuma dia yang bersedia mengantar orang-orang belanja dini hari.

Dari beberapa kenangan itulah yang membuat hatiku selalu tergerak untuk membeli marning-marning si mbah. Kai pernah bilang, sesulit apapun hidup kita, muda atau tua, lebih baik berusaha. Jangan pernah memanfaatkan tubuh renta untuk meminta-minta. Apalagi kalau masih kuat. Dan Si Mbah Penjual Marning itu, membuat ku melihat sosok Kai. Dia masih merasa kuat untuk bekerja, entah dia kekurangan atau hanya mencari kesibukan di masa tua, tapi beliau tetap bersemangat untuk berusaha.

Aku juga selalu ingat, pukul 3 sore, Kai selalu membungkus beberapa sayuran dan memberikannya pada tetangga yang kekurangan, atau yang tak sengaja lewat di depan warung. Saat aku tanya, kenapa diberikan cuma-cuma? Dia tidak pernah sekalipun menjawab sedekah, atau kasihan orang itu. Kai hanya menjawab, sayurnya masih segar, kalau besok layu udah ga bisa dijual. Jadi biarlah buat makan malam mereka. Padahal tiap aku membantu menyusun sayuran pagi hari, beliau selalu menyisakan 2-3 ikat sayur dalam keranjang. Jadi sayuran yang diberikan bukan sayur sisa atau yang tidak laku.

Terima kasih ajaranmu tentang kehidupan ya, Kai. Si Mbah Penjual Marning, semoga Allah SWT selalu memberikan rezeki yang barokah buatmu. Aamiin.


Al-Fatihah buat Kai Passingar J

Senin, 15 September 2014

Durian tanpa musim...




Hujan seharian mengguyur kota kecilku. Dinginnya terasa menusuk hingga ke tulang. Hari begini, enaknya duduk dirumah, menikmati minuman hangat sembari memandangi ricuhnya jagoan kecil ku yang rebutan mainan, walaupun mainannya selalu dibelikan sepasang.

Tapi itu hanya khayalanku. Waktu menunjukkan pukul dua siang. Aku baru melangkahkan kaki keluar kantor. Cuaca mendung, suara alunan ayat suci dari masjid dekat kantor, membawa suasana seperti menjelang magrib. Senja tanpa matahari.

Kali ini, aku melajukan kendaraanku menuju K*C. Kakak Ryu pesan menu si kecil. Bukan makanannya, yah lebih tepatnya mainan edisi terbarunya. Selalu begitu. Hihihi… anak-anak… sepanjang perjalanan, aku mengendarai kendaraanku dengan santai. Selalu ingat pesan bunda, kita enggak kehujanan. Buat apa melaju kencang laksana raja pemilik jalan? Kita pernah ngerasain cipratan mobil-mobil berkelas, yang kadang seenaknya melaju di derasnya hujan. Sampai hari ini pun aku selalu bertanya-tanya, apa sih untungnya melaju di tengah derasnya hujan? Apa mau membanggakan kepunyaan mereka? Aku selalu merasakan itu seperti melakukan hal yang sia-sia.

Sepanjang trotoar, buah durian, cempedak, langsat, duku, elai dan… mata kucing, berderet rapi di bawah tenda-tenda pedagang kaki lima. Bulan-bulan agustus sampai oktober awal, biasanya di kota ku musim buah berganti. Wanginya semerbak sepanjang jalan. Aku selalu menyukai aroma durian. Buah kesukaanku. Sebagian orang enggak suka buah ini, katanya wanginya memabukan, makan banyak bikin mual, dll. Tapi anehnya, tidak berlaku buatku. Berapapun, rasanya belum puas dan selalu ingin makan lagi. Hehehe… (maruk!)

Melihat durian-durian itu, kembali mengingatkan memori ku 5 tahun lalu. Di kota yang kujuluki durian tanpa musim. Hihihi, ini atas pemikiran ku sendiri. Samarinda. Aku tidak tinggal disana, pun tidak punya keluarga di sana. Tapi, dari sanalah jodohku hadir. Suamiku, Abi dari anak-anak ku. Karena pekerjaannya mengharuskan dia tinggal di Samarinda, alhasil kami sempat 6 bulan bolak-balik Tarakan-Samarinda. Sampai akhirnya, suamiku memutuskan untuk mengajukan pindah ke Tarakan. Karna, semua ada disini. Keluargaku, mertua dan saudara-saudara kami.

Banyak kenangan tersimpan walaupun singkat. Kota itu selalu ku rindukan. Kota yang menjadi saksi cinta kami bersemi (hihihi… kita nikahnya ta’aruf, sih ya). Di sana juga akhirnya aku tau suamiku enggak suka durian. Beberapa kali aku memintanya menemaniku makan atau beli durian. Tapi dia punya seribu alasan untuk menghindar. Dan selalu, aku makan durian bersama teman SMA ku yang kuliah di sana. Mereka selalu bersedia menemaniku bila waktu luang.


Bila ada kesempatan, aku selalu berharap bisa kembali kesana. Bukan karena enggak suka kota lain. Tapi hanya sekedar ingin kembali merenda kenangan manis bersama suamiku. Semanis durian tanpa musim di tepian Samarinda. 

Minggu, 07 September 2014

Bapak Tua Itu...

Beberapa hari lalu, sabtu sore tepatnya. Aku janji untuk bawa para jagoan kecilku ke taman. Terlihat di kejauhan mereka asik bermain bersama abinya. bahagia rasanya ngeliatin anak-anak segembira itu.
"Senang ya, mereka masih lucu-lucu" tiba-tiba aja keluar suara sedikit berat dan bergetar dari sampingku. 

Seorang bapak yang usianya sekitar 70-an menurutku. pakaiannya cukup casual, kaos oblong, celana pendek, dibawah lutut. sandal jepit dari kulit. kalo diliat dari model pakaian, sudah pasti bapak ini dari kalangan orang berada. ditangan kirinya memegang kunci mobil dan handphone android masa kini.
Walaupun sepertinya terlihat masih gagah, garis kulit dan wajah beliau memang memperlihatkan usia beliau.

Aku tersenyum dan mengangguk saat beliau mengucapkan kata-kata itu. mungkin beliau merindukan cucu-cucunya yang entah dimana.

"Apa do'amu, nak buat mereka?" tanyanya lagi.

"hmm.. tentu menjadi anak yang baik, sopan, jujur, taat beragama, membanggakan dan tidak membuat hal yang memalukan di keluarga dan masyarakat tentunya, pak." jelasku. kulihat beliau mengangguk. tersenyum. dan hening.

"semua orang tua akan begitu, nak. kita bekerja cukup keras agar mereka seperti anak-anak lain, agar mereka selalu berkecukupan, agar kelak mereka bisa berdiri tegak saat kita sudah tak lagi ada." ujar beliau sambil menerawang. entah apa yang diingatnya. kalau tebakanku, mungkin kenangan masa lalu bersama anak-anaknya.

"tiap orang pasti pernah mengalami masa sulit, nak. dulu, anak pertama sampai anak keempat bapak lahir dalam keadaan sulit. mereka lahir dirumah, tapi yang terakhir di rumah sakit loh. tapi dia juga yang lebih dulu menghadap Allah SWT." dia berujar dengan mata yang berkaca-kaca.

"innalillahi..."

"iya, sakit yang terlambat kami ketahui. karna anak itu pendiam, jarang ngeluh, kadang punya harta banyak gak buat kita serta merta bisa lakukan apapun. bahkan untuk anak sendiri" sesalnya.

"itu sudah janji anak bapak" jawab ku tersenyum untuk membesarkan hati beliau. beliau pun tersenyum dan mengangguk.

Bapak tua itu banyak cerita tanpa ditanya. mungkin beliau memang butuh teman untuk berkeluh kesah. sepanjang kami duduk berdampingan, banyak hal yang aku dapat dari bapak itu. anak pertamanya, bisnis jual beli kayu, anak keduanya kini di bandung, pengusaha konveksi, anak ketiganya seorang pegawai negeri, dan keempat satu-satunya anak perempuannya setelah yang bungsu meninggal, kini menjadi POLWAN.

Kalau dilihat dari cerita singkatnya, bapak ini termasuk berhasil mendidik anak-anaknya hingga bisa menjadi orang-orang berguna. tapi raut kesedihan diwajahnya tak bisa ia sembunyikan. 

"teruslah dekat dengan anak-anakmu itu, nak. sampai mereka besar, sampai mereka bisa berdiri dikehidupan mereka sendiri, tapi tak pergi jauh darimu"

"Inshaallah, pak" angguk ku.

"Saya ini kaya loh, nak. uang saya banyak di bank. milyaran, loh" katanya setengah tertawa.

"oh ya, pak" sambutku tersenyum nyaris tertawa kecil kaget dengan pernyataan beliau.

"Tapi, apa guna kita kaya, nak? saya berfikir, kaya begini saja saya gak pernah dijenguk, hanya karna anak-anak itu sibuk. apalagi kalau saya miskin tak berharta?" 

Hening. aku tercenung dengan pernyataan beliau. aku terdiam menatap bapak tua itu. beliau menerawang, matanya berkaca-kaca, ada setetes airmatanya, tepat diujung matanya. kemudian beliau menghapusnya. berdiri menuju penjual balon gas, membeli 2 buah balon berbentuk angry bird dan doraemon. kemudian menuju kedua jagoanku yang asik bermain ayunan. memberikannya pada anak-anakku seraya membelai kepala mereka. tanpa sadar aku meneteskan airmata. Membalas lambaian tangan bapak tua itu yang hendak pamit. kulihat langkah kaki tuanya menuju mobil sport yang ku perkirakan harganya 3x lipat mobilku saat ini. dan berlalu. meninggalkanku di tempat duduk taman. dalam hening. dalam do'a, semoga kelak anak-anakku tetap seperti saat ini. Aamiin.

Selasa, 13 Mei 2014

My New Sewing Machine... uhuhuhuuuu...

seneng banget kalo lagi bicarakan hal satu ini... hihihi... kepengen banget punya mesin jahit sejak 2 tahun lalu (padahal waktu itu gag bisa jahit sama sekali :D). Di rumah nenek tuh ada sih mesin jahit dari jaman aku belum lahir, hehehehe... tapi udah gag bisa dipakai, entah kenapa gitu... sayang aja sekarang cuma jadi pajangan aja deh...

mesin jahit mini... ya karena kan masih pemula juga. yang kedua alasannya pilih mesin jahit mini ya dananya belum ada beli yang gedean, hahahaha...

tapi emang bener seneng banget... ngebantu hayalan-hayalan aku yang kemarin-kemarin sih ya. pengen buat ini itu tapi gag ada mesinnya.. alhamdulillah deh dapet sekarang...

semalem pas nih mesin jahit datang, cuma di pandangin doang. entah seneng atau apa gitu, wkwkwkwk.... tiba-tiba ilang ide mau ngapain... hihiihi... ups, tapi gag selama itu juga sih bengongnya. hari ini udah ada ide mesinnya mau di apakan :D

mudah-mudahan mesin ini bantu semua kerjaan ku biar bisa terselesaikan dengan baik... aamiin...



kurang lebih gini nih penampakannya :D googling aja, soalnya gag sempet di foto semalem hihihi...

Senin, 12 Mei 2014

Baby Headband... bunga-bunga dimana-mana :D

Menyenangkan banget kalo udah ada yang pesen bandana baby... buatnya berasa lucu aja sambil ngebayangin anak cewek lagi make ini bandana di kepala botaknya hihihi...



belum sempet sih upload foto-foto dede-dede customer yang udah dengan senang hati berbagi fotonya buat saya :) ntar di upload ke Part 2 aja yah...

bandana ungu polka

 bandana putih

bandana yellow flower

Lucu ya kalo udah dipake'in di kepala baby yang kecil terus botak unyu-unyu gitu... hihihihi...

Minggu, 11 Mei 2014

Ikutan GA yang pertama (hayano handmade: MAY GIVEAWAY sponsored by : Apuu handmade)

hayano handmade: MAY GIVEAWAY sponsored by : Apuu handmade: postingan gembira di bulan mei ini :) GIVEAWAY !!!! horaaay :) may giveaway kali ini bersama apuu hand made   :) mbak bimbi...

1st orderan Luar Provinsi

Allohaaaaaaa...
ihhh... alhamdulillah minggu-minggu ini minggu sibuk... lagi mikirin ide kreatif pesenan souvenir dari "kaos muslim anak". gak nyangka banget dilirikin pengusaha besar.. mudah-mudahan berkelanjutan ya.. aamiin.
yang pastinya nih, gag sabar pengen utak atik peralatan.
selesaikan dulu soal-soal ulangan buat kenaikan kelas murid-murid kesayangan ku... setelah itu baru deh lanjutin orderannya... semoga hasilnya memuaskan terus order lagi. :)

Kamis, 08 Mei 2014

Sandal Cantik kuuu... (Versi aku... hehehe)

baruuuu bisa buka leppy... ini juga baru bisa ngeliatin satu karya dari beberapa karya (ceileeee... karya..) yang udah aku buat.
hmmm... banyak orderan yang alhamdulillah membuatku semakin banyak mengeluarkan banyak inspirasi... sandal ini awalnya buatin adik yang lagi bingung ama sandal buluk kesayangannya.. hihihi...
akhirnya malah jadi keterusan buatin ordean :D

Minggu, 30 Maret 2014

Alhamdulillah... seneng akhirnya punya blog juga... bisa share apa aja hasta karya yang udah saya buat. mudah-mudahan blog ini bisa jadi motivasi dan menambah ilmu craft yang masih kurang :D