![]() |
| Gambar Ilustrasi |
Jalan
besar arah menuju pulang ke rumah, ada penjual marning keliling. Lelaki cukup
tua, bersepeda. Diatas sepedanya dibuatkan kotak besar, tempat Ia menaruh bahan
dagangannya. Kakek tua itu berjualan marning. Ada beberapa jenis kacang juga. Katanya
di goreng menggunakan pasir. Harganya cukup terjangkau. Entah, apakah sudah
terbayar dengan usahanya yang selalu mendorong sepedanya itu atau tidak.
Tiap
pulang dari kantor atau jalan sore, aku selalu menyempatkan untuk
menyinggahinya. Sekedar membeli satu atau dua bungkus. Bukan karena iba, bukan!
Bukan juga berniat sedekah, karena beliau tidak meminta-minta. Kalaupun memang
terhitung dalam sedekah, biarlah Allah SWT yang menghitung amalanku. Aamiin.
Tiap
melihat si mbah itu (aku memanggilnya mbah karena beliau Jawa) aku selalu
teringat almarhum Kai (baca: Kakek). Aku cukup lama tinggal bersama Kai. Sejak masih
merah, sampai SMP kelas 1. Kai dulu seorang pedagang sayur. Beliau punya warung
kecil-kecilan. Pukul 3 pagi, ketika ayam hanya berkokok 2-3 kali, Kai dan Ma
uwo (baca: Nenek) bersiap shalat Tahajud. Setelah siap, mereka bersiap
mengambil keranjang besar dan di ambin seperti penjual jamu, tapi bedanya ada
pengait seperti ransel. Seingatku, keranjang itu besar banget. Aku kecil pun
sepertinya masuk ke dalam situ. Tubuh kecil Kai nyaris tak terlihat bila
mengambin keranjang itu. Mereka berjalan kaki menuju pasar yang lumayan jauh. Seharusnya
bisa saja mereka naik angkot yang memang selalu tersedia dini hari seperti itu,
karena memang banyak pedagang yang keluar jam segitu menuju pasar besar yang
dulu kami sebut pasar simpang tiga.
Sesekali
waktu, almarhum Kai mengajakku ke pasar. Biasanya hari minggu, aku
diperbolehkan ikut, karena pulang dari pasar aku boleh tidur lagi. Hehehe…
Yang
aku ingat, sepanjang berjalan menuju pasar, Kai selalu bercerita. Tentang apa
saja. Tanpa lelah, Beliau menggandeng tanganku. Ma Uwo selalu mengikuti sambil
membelai-belai pipi buntalku supaya tidak kedinginan. Sampai di pasar,
orang-orang sudah rame banget (namanya pasar ya rame kan ya, hihihi) Kai tidak
lama keliling karena dia sudah punya tempat beli sayur yang langganan sedari
muda. Tinggal comot sana, comot sini, bayar sana, bayar sini. Banyak juga yang
mengenaliku. Karena hampir setiap minggu aku ikut. Kecuali hujan, Kai tidak mau
aku kehujanan.
Biasanya,
setelah usai belanja kami singgah ke warung kopi yang terletak di tengah pasar.
Tanpa ditanya, penjualnya sudah hafal semua yang diminta pedagang disana. Aku dan
Ma uwo kopi susu, Kai biasanya Teh dengan warna merah pekat tanpa gula. Kalau pulang
dari pasar biasanya kami naik satu-satunya angkot yang ada pada jam segitu. Angkot
yang supirnya orang cina. Seumuran Kai dan sangat ramah. Dia pun hampir
mengenal semua pedagang pasar karena cuma dia yang bersedia mengantar
orang-orang belanja dini hari.
Dari
beberapa kenangan itulah yang membuat hatiku selalu tergerak untuk membeli
marning-marning si mbah. Kai pernah bilang, sesulit apapun hidup kita, muda
atau tua, lebih baik berusaha. Jangan pernah memanfaatkan tubuh renta untuk
meminta-minta. Apalagi kalau masih kuat. Dan Si Mbah Penjual Marning itu, membuat ku melihat sosok Kai. Dia masih
merasa kuat untuk bekerja, entah dia kekurangan atau hanya mencari kesibukan di
masa tua, tapi beliau tetap bersemangat untuk berusaha.
Aku
juga selalu ingat, pukul 3 sore, Kai selalu membungkus beberapa sayuran dan
memberikannya pada tetangga yang kekurangan, atau yang tak sengaja lewat di
depan warung. Saat aku tanya, kenapa diberikan cuma-cuma? Dia tidak pernah
sekalipun menjawab sedekah, atau kasihan orang itu. Kai hanya menjawab,
sayurnya masih segar, kalau besok layu udah ga bisa dijual. Jadi biarlah buat
makan malam mereka. Padahal tiap aku membantu menyusun sayuran pagi hari,
beliau selalu menyisakan 2-3 ikat sayur dalam keranjang. Jadi sayuran yang
diberikan bukan sayur sisa atau yang tidak laku.
Terima
kasih ajaranmu tentang kehidupan ya, Kai. Si Mbah Penjual Marning, semoga Allah
SWT selalu memberikan rezeki yang barokah buatmu. Aamiin.
Al-Fatihah
buat Kai Passingar J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih untuk waktu nya membaca blog saya :)
Mohon berikan komentar dengan bahasa yang baik yah...