Senin, 15 September 2014

Durian tanpa musim...




Hujan seharian mengguyur kota kecilku. Dinginnya terasa menusuk hingga ke tulang. Hari begini, enaknya duduk dirumah, menikmati minuman hangat sembari memandangi ricuhnya jagoan kecil ku yang rebutan mainan, walaupun mainannya selalu dibelikan sepasang.

Tapi itu hanya khayalanku. Waktu menunjukkan pukul dua siang. Aku baru melangkahkan kaki keluar kantor. Cuaca mendung, suara alunan ayat suci dari masjid dekat kantor, membawa suasana seperti menjelang magrib. Senja tanpa matahari.

Kali ini, aku melajukan kendaraanku menuju K*C. Kakak Ryu pesan menu si kecil. Bukan makanannya, yah lebih tepatnya mainan edisi terbarunya. Selalu begitu. Hihihi… anak-anak… sepanjang perjalanan, aku mengendarai kendaraanku dengan santai. Selalu ingat pesan bunda, kita enggak kehujanan. Buat apa melaju kencang laksana raja pemilik jalan? Kita pernah ngerasain cipratan mobil-mobil berkelas, yang kadang seenaknya melaju di derasnya hujan. Sampai hari ini pun aku selalu bertanya-tanya, apa sih untungnya melaju di tengah derasnya hujan? Apa mau membanggakan kepunyaan mereka? Aku selalu merasakan itu seperti melakukan hal yang sia-sia.

Sepanjang trotoar, buah durian, cempedak, langsat, duku, elai dan… mata kucing, berderet rapi di bawah tenda-tenda pedagang kaki lima. Bulan-bulan agustus sampai oktober awal, biasanya di kota ku musim buah berganti. Wanginya semerbak sepanjang jalan. Aku selalu menyukai aroma durian. Buah kesukaanku. Sebagian orang enggak suka buah ini, katanya wanginya memabukan, makan banyak bikin mual, dll. Tapi anehnya, tidak berlaku buatku. Berapapun, rasanya belum puas dan selalu ingin makan lagi. Hehehe… (maruk!)

Melihat durian-durian itu, kembali mengingatkan memori ku 5 tahun lalu. Di kota yang kujuluki durian tanpa musim. Hihihi, ini atas pemikiran ku sendiri. Samarinda. Aku tidak tinggal disana, pun tidak punya keluarga di sana. Tapi, dari sanalah jodohku hadir. Suamiku, Abi dari anak-anak ku. Karena pekerjaannya mengharuskan dia tinggal di Samarinda, alhasil kami sempat 6 bulan bolak-balik Tarakan-Samarinda. Sampai akhirnya, suamiku memutuskan untuk mengajukan pindah ke Tarakan. Karna, semua ada disini. Keluargaku, mertua dan saudara-saudara kami.

Banyak kenangan tersimpan walaupun singkat. Kota itu selalu ku rindukan. Kota yang menjadi saksi cinta kami bersemi (hihihi… kita nikahnya ta’aruf, sih ya). Di sana juga akhirnya aku tau suamiku enggak suka durian. Beberapa kali aku memintanya menemaniku makan atau beli durian. Tapi dia punya seribu alasan untuk menghindar. Dan selalu, aku makan durian bersama teman SMA ku yang kuliah di sana. Mereka selalu bersedia menemaniku bila waktu luang.


Bila ada kesempatan, aku selalu berharap bisa kembali kesana. Bukan karena enggak suka kota lain. Tapi hanya sekedar ingin kembali merenda kenangan manis bersama suamiku. Semanis durian tanpa musim di tepian Samarinda. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih untuk waktu nya membaca blog saya :)
Mohon berikan komentar dengan bahasa yang baik yah...