Hujan seharian mengguyur kota kecilku. Dinginnya terasa menusuk hingga ke tulang. Hari begini, enaknya duduk dirumah, menikmati minuman hangat sembari memandangi ricuhnya jagoan kecil ku yang rebutan mainan, walaupun mainannya selalu dibelikan sepasang.
Tapi itu hanya
khayalanku. Waktu menunjukkan pukul dua siang. Aku baru melangkahkan kaki
keluar kantor. Cuaca mendung, suara alunan ayat suci dari masjid dekat kantor,
membawa suasana seperti menjelang magrib. Senja tanpa matahari.
Kali ini, aku melajukan
kendaraanku menuju K*C. Kakak Ryu pesan menu si kecil. Bukan makanannya, yah
lebih tepatnya mainan edisi terbarunya. Selalu begitu. Hihihi… anak-anak…
sepanjang perjalanan, aku mengendarai kendaraanku dengan santai. Selalu ingat
pesan bunda, kita enggak kehujanan. Buat apa melaju kencang laksana raja
pemilik jalan? Kita pernah ngerasain cipratan mobil-mobil berkelas, yang kadang
seenaknya melaju di derasnya hujan. Sampai hari ini pun aku selalu
bertanya-tanya, apa sih untungnya melaju di tengah derasnya hujan? Apa mau
membanggakan kepunyaan mereka? Aku selalu merasakan itu seperti melakukan hal
yang sia-sia.
Sepanjang trotoar, buah
durian, cempedak, langsat, duku, elai dan… mata kucing, berderet rapi di bawah
tenda-tenda pedagang kaki lima. Bulan-bulan agustus sampai oktober awal,
biasanya di kota ku musim buah berganti. Wanginya semerbak sepanjang jalan. Aku
selalu menyukai aroma durian. Buah kesukaanku. Sebagian orang enggak suka buah
ini, katanya wanginya memabukan, makan banyak bikin mual, dll. Tapi anehnya,
tidak berlaku buatku. Berapapun, rasanya belum puas dan selalu ingin makan
lagi. Hehehe… (maruk!)
Melihat durian-durian
itu, kembali mengingatkan memori ku 5 tahun lalu. Di kota yang kujuluki durian
tanpa musim. Hihihi, ini atas pemikiran ku sendiri. Samarinda. Aku tidak
tinggal disana, pun tidak punya keluarga di sana. Tapi, dari sanalah jodohku
hadir. Suamiku, Abi dari anak-anak ku. Karena pekerjaannya mengharuskan dia
tinggal di Samarinda, alhasil kami sempat 6 bulan bolak-balik
Tarakan-Samarinda. Sampai akhirnya, suamiku memutuskan untuk mengajukan pindah
ke Tarakan. Karna, semua ada disini. Keluargaku, mertua dan saudara-saudara
kami.
Banyak kenangan
tersimpan walaupun singkat. Kota itu selalu ku rindukan. Kota yang menjadi
saksi cinta kami bersemi (hihihi… kita nikahnya ta’aruf, sih ya). Di sana juga
akhirnya aku tau suamiku enggak suka durian. Beberapa kali aku memintanya
menemaniku makan atau beli durian. Tapi dia punya seribu alasan untuk
menghindar. Dan selalu, aku makan durian bersama teman SMA ku yang kuliah di
sana. Mereka selalu bersedia menemaniku bila waktu luang.
Bila ada kesempatan,
aku selalu berharap bisa kembali kesana. Bukan karena enggak suka kota lain. Tapi
hanya sekedar ingin kembali merenda kenangan manis bersama suamiku. Semanis durian
tanpa musim di tepian Samarinda.

.jpg)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih untuk waktu nya membaca blog saya :)
Mohon berikan komentar dengan bahasa yang baik yah...