Jumat, 22 Mei 2015

Sapaan “Eeee… Sudah baanguuunn”

              Kalau diucapkan sepintas, sapaan ini hanyalah sapaan biasa untuk anak seumuran 2 hingga 5 tahun. Tapi tidak untuk keluarga kecil saya. Sapaan ini begitu istimewa. Sapaan keramat kalau saya bilang sih… hihihi… tapi tidak bisa diidentikkan dengan hal yang syirik loh yah…

            Sapaan ini hanya berawal dari sapaan manja untuk sulung nya saya. Kami biasa memanggilnya abang. Si abang selalu saya sapa sejak usianya 2 tahun dengan sapaan ini kala ia bangun tidur. Entah pagi atau siang. Biasanya abang tidur di kamar dan kami tinggalkan beraktifitas di sekitar rumah. Tiba-tiba abang keluar dari kamar dengan setelan kaus dalam putih (singlet baby) dan celana dalam (biasanya kalau pakai kostum ini dia menyebutnya abang pahlawan sempak! Hahaha… entah ide darimana ituu… malu sayaahhh x_x).  balik lagi yah, kepanjangan penjelasannya.. hehehe… nah, kalau tiba-tiba bangun gitu, saya langsung sapa “eee… sudah baanguunn” seraya menggendong atau sekedar mencium pipi chubby nya.

            Karena keseringannya sapaan itu, bagi abang hal itu istimewa. Bila kita di rumah lagi pada sibuk dan mengabaikannya saat bangun dengan melewatkan sapaan itu, mood nya bakal rusak seharian. 1 x 24 jam! Semua yang kita lakukan salah… salah besar. Kasih makan salah, kasih mandi salah, ajak main salah, ajak nonton salah… well alhasil abang bakal ngambek, nangis, teriak-teriak… dan hal itu berlangsung hingga hari ini usia nya menginjak 4 tahun. Dan hal yang lebih gemes lagi, sapaan itu berlaku untuk semua orang. Aunty, utie (nenek), a’ai (kakek), abi, ummi, dan adiknya sekalipun tak luput absen harus menyapanya… hahaha… satu saja orang rumah yang tidak menyapanya… OK… nikmati hari indahmu dengan rewelan abang! Wkwkwk…

            Sapaan ini tertular juga ke si adik… tapi kalau adik lebih flexible sih… cukup satu aja yang nyapa… tapi bisa berabe juga kalau ada abang… abang bakal instruksikan semua orang di rumah untuk menyapa adiknya. Tidak boleh diwakilkan… hahaha… selalu senyum-senyum sendiri kalau ingat tingkah laku abang…

            Sapaan istimewa ini akhirnya jadi bahan candaan orang rumah. Pernah sekali waktu kita sibuk dan fokus buat kue di dapur. Tiba-tiba aunty cantik (panggilan khusus anak saya untuk adik perempuan saya) memecah kesunyian “eee… sudah baaanguuunnn” dan percaya nggak percaya utie dan saya reflex menoleh ke arah kamar dengan mulut menganga mau mengucapkan sapaan yang sama. tapi kamar saya terlihat sunyi dengan pintu tertutup. Adik saya tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah spontan kami. Tentu saja kami reflex ikut tertawa. Karena hal itu sudah menjadi rutinitas kami.

            Tidak pernah menyangka bila sapaan itu, menjadi sapaan yang begitu istimewa untuk kedua anak saya… tidak terasa, abang sudah mulai memasuki dunia sekolah tahun ini… ada beberapa pilihan TK yang kami pertimbangkan. Semoga cocok buat abang :)… tentu saja, TK tidak akan mengubah kebiasaan ini yang entah sampai kapan… hihihi…

Selasa, 19 Mei 2015

Lihat dari Sudut Pandang Berbeda

         Hari ini, Airin seperti biasa, usai sholat dia membenahi jilbabnya yang menjulur hingga pinggangnya. Airin melirik ke sekeliling mushola teduh tempatnya janji temu dengan Sang Pencipta setiap dzuhur. Masih ada rasa enggannya melangkahkan kaki menuruni gunung kecil menuju kantin dekat perkantoran tempat ia bekerja. Dengan hembusan nafas yang sedikit berat, akhirnya Airin melangkahkan kaki menuju penyimpanan sepatu di sudut mushola.

“Ai?!” terdengar sapaan lembut setengah kaget dari seorang wanita cantik yang baru saja keluar dari mushola. Baru mengerjakan sholat. Airin menoleh.

“Viona?!” balas Airin terperangah. Kaget bisa bertemu teman sekampusnya plus satu angkatan dengannya.

“ihh… serius nih?” Viona menarik-narik jilbab Airin setelah melepas pelukan hangatnya seraya mengibas-ngibaskan baju kerja Airin dan memutar-mutar tubuh teman dekatnya. Meneliti dengan seksama setengah tidak percaya.

“hihi… emang kenapa?” jawab Airin lembut dengan senyuman yang tak lepas dari bibir merahnya.

“ya ampun Aiiii… kamu kenapa? Kayaknya kamu paling super duper keren deh dalam fashion waktu di kampus.. kok sekarang bisa berubah gini? Tapiii.. lebih cantik sih… sueeerrrr!!” ujar Viona panjang lebar.

“udah lama nggak ngobrol bareng, makan yuk” ajak Airin menarik tangan Viona menuju kantin kantor.

            Banyak hal yang mereka ceritakan. Viona ada temu janji dengan pihak kantor yang bersebelahan dengan tempat Airin bekerja. Karena selesai dzuhur, Viona menyempatkan singgah di mushola milik gabungan perkantoran tersebut.

“eh, Ai, kamu inget nggak sama Jenny?” Tanya Viona

“iya, kalo nggak salah sekarang udah bahagia banget yah hidupnya… aku selalu lihat dia posting foto-foto liburan sama keluarganya di facebook” jawab Airin

“iihh… itu sih kamuflase aja!” sewot Viona.

“huss!! Nggak boleh gitu. Bisa jatuhnya fitnah” Airin mengingatkan.

“seriuuusss… foto boleh bahagia, duit banyak, tapi suami nya itu loh! Over banget sama Jenny!” jelas Viona

“over gimana?” Tanya Airin heran

“iyaaa… Jenny itu nggak boleh ini itu tanpa persetujuan suami nya!”

“ah, kamu tau darimana? Jangan gitu, Vi..”

“ihh kamu ini Ai… kita sempet loh niat buat reunian bareng! Nggak jadi karena semua sibuk. Tapi Jenny kan ibu rumah tangga… ternyata nggak dibolehin sama suaminya. Jangankan gitu yah, pengen ke rumah orang tua aja, nggak boleh kalo nggak ada kepentingan. Dan harus suaminya yang nganter!”

“ya Allah… serius kamu, Vi.. kelihatannya bahagia banget yah…”

            Panjang lebar Viona dan Airin berbicara hingga akhirnya berpisah dengan bertukar nomor ponsel. Kisah Jenny membuat Airin begitu bersyukur. Suaminya memang tidak sekaya suami Jenny yang mungkin bisa saja membawannya jalan-jalan ke mana saja seperti keinginan yang diam-diam dipendam Airin selama ini. Tapi suami Airin, tak segan dan tak malu mengulurkan tangan membantu Airin. Mengurusi anak-anaknya di kala Airin sibuk dengan pekerjaan kantornya. Tak pernah keberatan ketika Airin menghabiskan waktu mengobrol berjam-jam bersama ibu dan adik-adiknya. Tak pernah marah saat Airin tak sempat menyiapkan makan malam. Airin mengingat sekilas, betapa banyak waktu, tenaga, fikiran bahkan masa depan yang dikorbankan suaminya untuk Airin dan anak-anaknya.


            Rumput tetangga memang kilaunya lebih memukau. Tapi alangkah menyenangkannya bila menyirami taman sendiri, bukan hanya dengan rumput, tetapi dengan bunga-bunga bermekaran. Bersyukur dengan apa yang dimiliki. Tak perlu melihatnya menjadi sebuah kekurangan tapi sebuah jalan menuju jembatan istiqomah yang akan menuju surga Allah SWT bersama.