Hari ini, Airin
seperti biasa, usai sholat dia membenahi jilbabnya yang menjulur hingga
pinggangnya. Airin melirik ke sekeliling mushola teduh tempatnya janji temu
dengan Sang Pencipta setiap dzuhur. Masih ada rasa enggannya melangkahkan kaki
menuruni gunung kecil menuju kantin dekat perkantoran tempat ia bekerja. Dengan
hembusan nafas yang sedikit berat, akhirnya Airin melangkahkan kaki menuju
penyimpanan sepatu di sudut mushola.
“Ai?!” terdengar
sapaan lembut setengah kaget dari seorang wanita cantik yang baru saja keluar
dari mushola. Baru mengerjakan sholat. Airin menoleh.
“Viona?!” balas
Airin terperangah. Kaget bisa bertemu teman sekampusnya plus satu angkatan
dengannya.
“ihh… serius
nih?” Viona menarik-narik jilbab Airin setelah melepas pelukan hangatnya seraya
mengibas-ngibaskan baju kerja Airin dan memutar-mutar tubuh teman dekatnya. Meneliti
dengan seksama setengah tidak percaya.
“hihi… emang
kenapa?” jawab Airin lembut dengan senyuman yang tak lepas dari bibir merahnya.
“ya ampun Aiiii…
kamu kenapa? Kayaknya kamu paling super duper keren deh dalam fashion waktu di
kampus.. kok sekarang bisa berubah gini? Tapiii.. lebih cantik sih… sueeerrrr!!”
ujar Viona panjang lebar.
“udah lama nggak
ngobrol bareng, makan yuk” ajak Airin menarik tangan Viona menuju kantin
kantor.
Banyak hal yang mereka ceritakan. Viona
ada temu janji dengan pihak kantor yang bersebelahan dengan tempat Airin
bekerja. Karena selesai dzuhur, Viona menyempatkan singgah di mushola milik gabungan
perkantoran tersebut.
“eh, Ai, kamu
inget nggak sama Jenny?” Tanya Viona
“iya, kalo nggak
salah sekarang udah bahagia banget yah hidupnya… aku selalu lihat dia posting
foto-foto liburan sama keluarganya di facebook” jawab Airin
“iihh… itu sih
kamuflase aja!” sewot Viona.
“huss!! Nggak boleh
gitu. Bisa jatuhnya fitnah” Airin mengingatkan.
“seriuuusss…
foto boleh bahagia, duit banyak, tapi suami nya itu loh! Over banget sama
Jenny!” jelas Viona
“over gimana?” Tanya
Airin heran
“iyaaa… Jenny
itu nggak boleh ini itu tanpa persetujuan suami nya!”
“ah, kamu tau
darimana? Jangan gitu, Vi..”
“ihh kamu ini Ai…
kita sempet loh niat buat reunian bareng! Nggak jadi karena semua sibuk. Tapi Jenny
kan ibu rumah tangga… ternyata nggak dibolehin sama suaminya. Jangankan gitu
yah, pengen ke rumah orang tua aja, nggak boleh kalo nggak ada kepentingan. Dan
harus suaminya yang nganter!”
“ya Allah…
serius kamu, Vi.. kelihatannya bahagia banget yah…”
Panjang lebar Viona dan Airin
berbicara hingga akhirnya berpisah dengan bertukar nomor ponsel. Kisah Jenny
membuat Airin begitu bersyukur. Suaminya memang tidak sekaya suami Jenny yang
mungkin bisa saja membawannya jalan-jalan ke mana saja seperti keinginan yang
diam-diam dipendam Airin selama ini. Tapi suami Airin, tak segan dan tak malu
mengulurkan tangan membantu Airin. Mengurusi anak-anaknya di kala Airin sibuk
dengan pekerjaan kantornya. Tak pernah keberatan ketika Airin menghabiskan
waktu mengobrol berjam-jam bersama ibu dan adik-adiknya. Tak pernah marah saat
Airin tak sempat menyiapkan makan malam. Airin mengingat sekilas, betapa banyak
waktu, tenaga, fikiran bahkan masa depan yang dikorbankan suaminya untuk Airin
dan anak-anaknya.
Rumput tetangga memang kilaunya
lebih memukau. Tapi alangkah menyenangkannya bila menyirami taman sendiri,
bukan hanya dengan rumput, tetapi dengan bunga-bunga bermekaran. Bersyukur dengan
apa yang dimiliki. Tak perlu melihatnya menjadi sebuah kekurangan tapi sebuah
jalan menuju jembatan istiqomah yang akan menuju surga Allah SWT bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih untuk waktu nya membaca blog saya :)
Mohon berikan komentar dengan bahasa yang baik yah...