Selasa, 12 Januari 2016

Kepada : Sang Pemilik Jejak

Hai…
Apa kabar?
Lama sudah aku mencarimu

Bukan! Bukan untuk memintamu kembali!
Mohon jangan salah paham.

Kemana saja kau pergi?
Mengapa tanpa pamit?

Aku kemari hanya ingin bertanya…
Bagaimana cara menghapus jejakmu?
Ajarkan aku…

Ada yang ingin memijakkan jejaknya,
Ia ingin menetap tanpa menghilang…
Tapi,
Jejakmu masih jelas terlihat!

Bagaimana cara menghapus jejakmu?
Ajarkan aku…

Setelah itu, takkan lagi aku mencarimu.

Ajarkan aku, cara menghapus jejakmu.


postiVe_Thinking

Minggu, 10 Januari 2016

Aku Tidak Pindah!

Maaf...
Aku tidak pindah... Tidak!!!

Kau ingin pergi, bukan?

Maka pergilah!

Sudah kutahan dirimu,

Tapi kau tetap pergi...
Maka pergilah!

Maaf...

Kau tak bisa lagi masuk kemari
Kunci yang ada padamu sudah tidak berfungsi lagi
Sudah aku ganti!

Aku tidak pindah

Aku tetap disini

Tapi maaf,

Kau takkan bisa masuk lagi...
Takkan kubiarkan, sekalipun kau meminta lagi!


positiVe_Thinking

Rabu, 06 Januari 2016

Kepingan Luka

Dan betapa caranya berbicara membuatku jatuh cinta…

Amira beringsut memperbaiki duduknya, menghangatkan dirinya dari kepungan dinginnya hari ini. Amira terus menatap keluar dan menatap jauh ke suatu tempat di sudut sana.

“Caranya menatapku, memperlakukanku, nada bicara yang diatur seirama dengan degupan penuh cinta. Sungguh kekasih impian. Senyum yang selalu menyambut kedatanganku dengan kikuk yang tidak bisa disembunyikan. Tapi dia bukan kekasihku. Bukan orang yang boleh aku miliki!”. Tentu saja larangan keras itu terlihat sejak awal. Ada dinding berdiri kokoh diantara mereka. Delima. Yah, Delima. Adik sepupu Amira yang menerima perjodohan kerabat jauh mereka. Kerabat yang dulu, sewaktu kecil teman sepermainan. Tian, Amira, dan Delima dulu adalah teman sepermainan, dulu sekali ketika mereka tinggal di kota yang sama.

            Seperti kisah-kisah klasik drama, cinta itu menerpa antara dua insan. Cinta yang datang di akhir kisah. Cinta yang hadir diantara seorang pangeran yang baru saja menemukan sang putri. Keberadaan Amira bukanlah pengganggu untuk Delima. Mengingat betapa ia percaya sepenuh hati pada Amira, menceritakan segala hal. Mereka lebih dari sekedar ikatan saudara sepupu, lebih dari sekedar sahabat kecil. Tapi, salahkah perasaan Amira? Salahkah cinta yang datang di tengah keadaan ini?

            Tatapan mata Tian di sela keramaian menjadikan guratan-guratan luka di hati yang begitu perih menusuk hingga ke jantung. Amira mengerti. Sungguh Amira mengerti perasaannya. Senyuman yang bukan ketulusan darinya ketika memasangkan cincin ke jari manis Delima sebagai tanda pertunangan. Hanya Amira yang mengerti arti senyumnya. Tapi Amira juga mengerti, Tian dan Amira tidak memiliki garis takdir untuk bersatu, menjalin kehidupan cinta selayaknya yang begitu diimpikan.

            Melihat senyum Delima merekah kemudian berjalan beriringan bersama Tian ke arah Amira, menimbulkan rasa perih menyayat hati. Mengingat perlakuan Tian pada Amira semalam yang menyelinap mengetuk jendela kamar Amira melalui pintu samping.

            “alangkah baiknya kita jujur sebelum esok” ujar Tian pada Amira sedikit memaksa. Menggenggam tangan Amira dengan lembut dan hangat. Genggaman yang bukan pertama kalinya sejak pertemuan mereka tiga bulan yang lalu dalam acara perjodohan Tian dengan Delima.
            Amira menggeleng pelan. Dia memang bodoh karena begitu mudah jatuh cinta pada Tian. Mencintai caranya mencintai Amira. Tapi tidak akan ia membiarkan kebodohannya mempermalukan keluarga besar mereka. Meruntuhkan hati Delima yang begitu memuja Tian. Mencintainya dengan hati yang begitu tulus. Mungkin setara dengan rasa cinta Amira pada Tian.

Tian tak bergeming, terus menatap Amira dengan tatapan tanpa ekspresi. Hanya matanya yang berbicara. Masih belum terlambat. Pergilah bersamaku. Jangan pedulikan semua ini!. Dan dari mata itu juga Tian mengerti jawaban Amira yang sedikitpun takkan berubah. Jawaban yang sama. semata-mata demi nama baik keluarga. Amira berlalu, meninggalkan Delima dengan banyak tanya di benaknya. Meninggalkan keramaian yang seharusnya menjadikan sebuah kebahagiaan untuknya karena Delima menemukan seseorang yang selalu ia inginkan.

Amira masih terpaku, menatap keluar jendela kafe tempat ia duduk saat ini. Tetap dengan guratan luka-luka yang baru saja ia bawa pergi.

***

Jumat, 01 Januari 2016

Makna Hari Lahir...

Hei... i'm 28 years old now...

Sudah cukup menua rasanya...
Banyak banget yang udah dilewati dan gak sedikit juga yang terabaikan.

Maluuu banget kalo inget banyak kesalahan dan gak memanfaatkan umur dengan baik...

semoga umur yang dikasih sekarang bisa menambah keistiqomah-an diri... menjadikan ku manusia yang lebih baik.. umur makin kurang aja....

Pengen bisa jadi teladan buat anak-anak... dan rasanya masih jauuuuuhhh dari kata teladan... hihihi...

Semoga umur ini berkahnya banyaaaaaaakkk... biar bisa bagi-bagi berkah juga buat yang lain... aamiin...


Sabtu, 28 November 2015

28 November, 6 Tahun Lalu...

Dan karena itulah aku mencintaimu…

Banyak yang mungkin menganggap saya aneh, kudet, ribet, tukang ribut dan beragam anggapan lainnya. Tidak banyak orang yang mampu bertahan tahunan bersama saya, dengan segala kericuhan yang saya miliki. Tapi ya beginilah saya.
Mantan pacar saya tidak banyak. Mungkin bisa jadi karena terlalu ribetnya hubungan saya. Tidak boleh begini, tidak mau begitu. Saya tidak pernah ambil pusing. Toh kalau cinta, harusnya kekurangan itu dibicarakan, bukan? Atau mungkin apalah… apalah… begitu kan yah? Dan tak mau ambil pusing isi kata “apalah… apalah…” itu!
Tidak ada yang menarik dalam diri saya. Hmm, sampai saat inipun saya belum mengerti apa yang istimewa dari saya selain cepat ngambek, cepat baik, tiba-tiba suka teriak-teriak, tiba-tiba jadi pendiam. Hohoho… itu moody atau stress yah… Saya memang banyak kenal orang, punya banyak teman, bisa menyapa siapa saja bila bertemu di jalan, tapi sahabat saya tidak banyak. Hingga saat ini, bisa dihitung jari yang mau jadi sahabat saya. Ya karena itu tadi, tidak banyak yang mampu menerima diri saya yang kadang menyebalkan ketika sedang dinamis menghadapi suatu hal. Ketika mengutarakan mau, atau ketika tidak suka akan sesuatu.
Sampai pada suatu hari, di hari-hari yang saya anggap buruk, seseorang menghubungi saya, saling bertukar foto dan berbicara dengan video call. Kemudian 3 x 24 jam tak menutup ponselnya non-stop. Entah apa yang kami bicarakan. Sudah lupa. Kami terdiam sejenak saat saya mengajar, saat dia juga menyibukkan diri di kantornya. Seseorang itu adalah ayah dari dua buah hati saya, bersedia mendampingi saya hingga hari ini. Mungkin banyak orang yang mengenalnya berpikir, mengapa dirinya mengorbankan segalanya untuk bersama saya. Hanya dalam 3 hari memutuskan untuk memberikan jiwa raga nya untuk setia pada saya. Bahkan rela mengalami masa terpuruk bersama saya.

Buat saya…

Dia adalah orang yang paling mengerti mengenai minat saya. Walau saya adalah seorang guru, tapi saya lebih banyak antusias bercerita tentang seni padanya. Bukan tentang anak-anak di kelas saya. Saya cerita tentang bros-bros yang saya buat, keinginan saya mendalami dunia jahit-menjahit, tentang saya yang punya mimpi menjadi penulis ternama, tentang saya yang lebih banyak punya khayalan-khayalan hampa tanpa tahu, salah satu yang mana yang nantinya akan terwujud. Itu pertama kalinya saya merasa sangat diterima. Karena sejauh itu, hanya ia yang mengerti mau saya.
Dia rela bergadang bermalam-malam demi membantu saya menyelesaikan pesanan souvenir saya. Kadang dia juga selalu bertanya tentang perkembangan mengenai hobi menulis saya. Ia selalu bertanya kapan saya akan berani menyerahkan novel atau cerpen saya ke redaksi penerbit (meskipun hingga saat ini minder saya masih lebih besar dari percaya diri saya), mendukung saya, menguatkan pendapatnya kalau saya mampu mewujudkan impian saya. Untuk pertama kalinya saya merasa seseorang setelah BUNDA saya mengakui kemampuan saya yang tidak seberapa menjadi terdengar luar biasa.
Dia bisa mengikuti ritme hidup saya yang berubah-ubah. Ada masanya saya senang sekali berhari-hari berkutat di dapur masak beraneka ragam masakan, kue, camilan, minuman, yang membuat seisi rumah merasa senang, bangga, dan tidak merasa kelaparan. Dan dalam waktu singkat, hitungan detik saya berhenti dengan alasan bosan. Dan berminggu-minggu tidak ada apapun pergerakan di dapur, kemudian hanya secangkir teh dan roti selai di atas meja makan. Kadang tiba-tiba saya berjam-jam duduk diam di kamar bunda hanya karena ingin mencoba hasil karya baru, entah bros, bandana, sepatu baby atau apalah yang berkaitan dengan keterampilan satu ini. Membiarkannya sibuk bermain dengan dua buah hati saya di kamar. Dan kembali berhenti, mengumpulkan debu dalam kotak crafting saya. Alasannya sama. Sedikit bosan, dan buntu ide. Hahaha… dan Dia tetap setia menerima kekurangan saya ini.

Dia
Dia yang menerima kurang saya, dia yang tak pernah lelah akan mau saya, dia yang selalu ada ketika saya jatuh dan hampir terluka.

Dia.
Dia yang berusaha menyeimbangkan langkah saya, walau terkadang mundur beberapa langkah untuk berlari lebih jauh. Dia yang menanggapi setiap ide saya, dia yang mendengarkan setiap pengetahuan yang baru saya terima.

Dia.
Dia yang merentangkan kembali sayap saya yang telah patah karena sempat tak percaya cinta, dia yang membangunkan saya bahwa hidup itu jauh lebih indah dari mimpi...

Hari ini, kami sudah memiliki dua orang anak laki-laki yang sungguh luar biasa. Sungguh saya masih sangat bersyukur dimiliki, dan memiliki mereka :)

Ada yang pernah mengatakan, "tidak ada orang yang sudah pintar dan mahir berumah tangga, yang ada adalah yang terus berusaha belajar dan beradaptasi dengan episode kehidupan rumah tangga."

Alhamdulillah bulan November ini tidak terasa sudah memasuki usia pernikahan ke 6 tahun… tak terasa :) 6 years of marriage, and still counting, and we do still learning :)

doakan kami yaaa.. semoga menjadi keluarga yang benar benar sakinah mawaddah warahmah :) aamiin..


Tarakan, 28 November 2009 – 28 November 2015


Rabu, 25 November 2015

Selamat Hari Guru :')



Hari Guru yah...
hmmm... apa yah?

Selamat Hari Guru khusus untuk Alm. Kai Sarpin...
Selamat Hari Guru khusus untuk Abah ku tercinta Muhammad Fitrah Isdiansyah...
Selamat Hari Guru khusus untu Bunda ku (separuh nyawaku) Halimah Tussa'diah...
Selamat Hari Guru untuk Guru SDN 012 Tarakan (rekan sejawat, saudara, dan keluarga kedua ku)
Selamat Hari Guru untuk semuuuuuaaaaaaaaaaaaaaaaa Guru di manapun...
Selamat Hari Guru juga untuk para MAMA di mana saja... Guru pertama untuk semua anak mereka sebelum benar-benar ada seseorang yang disebut Guru di sekolah...

So surprise pagi ini tiba-tiba dapet kado dari siswa-siswi ku yang cantik dan ganteng nan polos...
weeewww, hari cerah bukan Ultah, tapi dapet hadiah... hihihi...

terharu banget, mereka ingat hari ini hari Guru... ngucapin selamat, sampe kasih surat segala...

tapi bukan untuk terlalu patut berbangga,
malah seharusnya sebagai bahan introspeksi diri...
Aku yang kadang selalu lepas kontrol marah-marah kalo mereka pada sibuk sendiri, tapi mereka tetap menyayangiku... tetap mengingat hari-hari spesial seperti hari ini...
menguras tenaga, pikiran serta materi mereka hanya sekedar membuat ku tersenyum bahagia...
tangan-tangan kecil mereka yang sibuk memperebutkan tanganku untuk sekedar salaman!

hari ini kelasku cukup meriah, ada banyak balon, ada banyak tulisan dan gambar karya mereka, untuk menyambut kedatanganku...

Terima kasih siswa-siswi ku...
Terima kasih telah menempatkanku di hati kalian...
Terima kasih telah mengajarkan Ibu, tentang arti terima kasih...
Semoga apa yang Ibu ajarkan selama ini, bisa berguna untuk masa depan kalian kelak... aamiin...

SELAMAT HARI GURU :)

Rabu, 18 November 2015

Gamang...

          Cukup lama ku pandangi punggung itu. Sudah lama aku terbiasa bersembunyi dibalik punggung itu. Dada bidang si pemilik punggung itu selalu menghangatkan tiap malam yang ku punya. Mengantarkan ku pada mimpi-mimpi indah yang selalu ku nanti di tiap malamnya. Ah! Baru saja subuh tadi aku masih terpesona pada punggung yang penuh khusyuk dalam untaian do’a-do’anya. Baru subuh tadi, aku masih percaya bahwa dia adalah imamku, pemimpin yang akan membawaku menuju surga-Nya. Dia yang selalu tak pernah melepaskan tiap do’anya untukku, untuk anak-anak kami.
             Tentu saja aku harus percaya padanya. 10 tahun kami jalani semua rintangan bersama. 10 tahun kami menyatukan asa agar mampu meraihnya hingga ke puncak. 10 tahun kami lalui agar dapat senyum kami selalu mengembang dan mengucap syukur pada pemberian sang Pencipta pada kami yang lebih dari cukup. 10 tahun dengan kesabaran dia membimbingku dalam tiap sujudnya.
            Ah! Lagi-lagi aku menerawang ke langit-langit kamar. Kemana kepercayaan itu menguap? Kenapa begitu cepat kepercayaan itu menghilang? Cukupkah karena alasan itu? Cukupkah yang ku lihat menjadi penyebab runtuhnya sebuah kepercayaan yang ku bangun selama ini? Kepercayaan yang ku bangun dengan begitu kokohnya! Kepercayaan yang kurajut dengan benang bernama do’a.
             Pagi ini ku lihat kekasih hatiku sedang tergesa-gesa. Sedikit ia bersuara meneriakan beberapa benda untuk minta diantarkan ke dalam mobil. Aku sudah terbiasa dengan keadaan ini. Ku lihat dia masih berkutat sebentar di depan komputer di ruang kerjanya. Komputer lama yang tak pernah mau ia singkirkan meski zaman telah berubah. Tentu saja ia punya sebuah laptop. Sambil bercakap-cakap pelan via ponsel dan membuka beberapa arsip. Teriakan putra-putri ku membuatnya lebih cepat beringsut dari layar monitor, berlari kecil seraya mengecup keningku dengan lembut, dan melambaikan tangan sambil terus berbicara dengan seseorang di ponselnya.
            Setelah mereka pergi, aku menyinggahi ruang kerja suamiku. Disana ada remah roti bakar yang berhamburan. Kopinya pun sudah habis diminum. Ku ambil tissue untuk membersihkan sisa makanan itu sambil melirik layar monitor. Kebiasaan suamiku selalu lupa mematikan komputernya bila tergesa. Tapi kali ini berbeda. Dia lupa keluar dari email pribadi dan akun facebooknya. Dahiku mengeryit heran. Suamiku? Ku ingat beberapa tahun lalu, dia mengatakan tidak begitu menyukai facebook. Dia memang memiliki akun facebook tapi enggan membukanya.
            Entahlah, apakah sang Maha Mengetahui sedang membimbing tangan dan mataku? Ku lihat kotak masuk pada emailnya dengan hati bergetar. Jantungku tidak lagi berirama serasi. Dadaku seperti menerima beberapa gumpalan asap hingga sulit bernafas teratur. Beberapa menit yang lalu sebelum dia pergi ke kantor, ada pesan untuk facebooknya. Perlahan ku buka facebooknya, ku buka pesan. Dan… kosong! Apa ini? Tertera sebuah pesan yang terakhir di terimanya tahun lalu. Mata ku terasa panas. Ada sesuatu disana? Kembali sengaja ku buka emailnya dengan lebih teliti. Ku cocokkan tanggal-tanggal pemberitahuan pesan-pesan itu. Pesan yang berlangsung sejak enam bulan yang lalu. Ya Allah… pemberitahuan itu ada. Tapi tak sedikitpun tertera di facebooknya.
            Kini Kristal itu berjatuhan. Aku menangis! Tapi untuk apa? Untuk siapa? Karena apa? Kenapa tangisan ini pun tak berhenti. Malah semakin menjadi. Kemana aku selama ini? Apa gunanya kepercayaan yang kuberikan selama ini? Ataukah hanya aku yang kurang perasa? Terbuai oleh semua sikap manis yang ia tunjukkan. Sikapku yang mana yang menyalahi hubungan kami? Hei, sudah 10 tahun, bukan?
            Dengan sekuat tenaga tetap ku buka beberapa email yang masuk bertahun-tahun lalu. Tepat dua hari sebelum pernikahan ada seorang wanita yang masih mengirimkan email padanya. Yang mengatakan hatinya masih terpaut pada suamiku dan sulit melupakannya. Mengirimkan beberapa foto dan beberapa lagu yang harus di dengarkan tiap mereka saling merindukan. Email yang berlangsung hingga usia pernikahan menginjak tahun kedua kemudian menghilang. Sungguh cantik wanita itu.
            Lalu, siapa pengirim pesan melalui facebooknya? Pria atau wanita? Kenapa harus dihapus? Ah sudahlah! Ku tutup semua yang ku lihat. Ku matikan layar monitor itu dan bergegas berbenah seperti biasa meski semua sudah hancur. Hancur berkeping-keping tak tersisa.
            Disini, di tepi tempat tidur, ku pandangi lagi sosok lelaki yang menemani hariku, membahagiakan tanpa celah. Ku beranikan diri sore tadi bertanya sepulang kantor. Dia hanya terdiam dengan mata berkaca-kaca. Ah, sudahlah! Itu sudah cukup menjadi jawaban.
            “apa yang salah padaku? Apa karena kita dijodohkan? Bukankah kau menerimanya?” tanyaku dengan mulut bergetar seraya menahan perihnya rasa sakit di hatiku. Suamiku hanya menggeleng perlahan. “sehari setelah pernikahan aku sungguh jatuh cinta padamu, kau tak sebanding dengan wanita-wanita yang selama ini kutemui. Kepadanya, aku hanya meluangkan waktu mendengar curahan hati nya” jawab suamiku, dengan menahan tangisnya. “hingga hari ini? Untuk apa?” Tanya ku lagi. Dan kali ini kami benar-benar diam.

            Aku beranjak dari duduk diamku sedari tadi. Mengemasi beberapa pakaian, ku lipat rapi ke dalam tas. Untuk pertama kali setelah 10 tahun. Ku ajak anak-anak berlibur. Aku merindukan suasana kampung yang tenang. Entah ini benar atau tidak. Aku hanya ingin sedikit melegakan nafas yang sesak, mengelus dada yang bergetar, mengatur kembali irama jantung agar degupannya senada. Mendinginkan mata yang terasa panas dan mulai menyipit karena Kristal yang tak pernah berhenti. Entah karena apa. Sayang, izinkan aku pergi… sejenak saja!