Dan karena
itulah aku mencintaimu…
Banyak
yang mungkin menganggap saya aneh, kudet, ribet, tukang ribut dan beragam
anggapan lainnya. Tidak banyak orang yang mampu bertahan tahunan bersama saya,
dengan segala kericuhan yang saya miliki. Tapi ya beginilah saya.
Mantan
pacar saya tidak banyak. Mungkin bisa jadi karena terlalu ribetnya hubungan
saya. Tidak boleh begini, tidak mau begitu. Saya tidak pernah ambil pusing. Toh kalau
cinta, harusnya kekurangan itu dibicarakan, bukan? Atau mungkin apalah… apalah…
begitu kan yah? Dan tak mau ambil pusing isi kata “apalah… apalah…” itu!
Tidak
ada yang menarik dalam diri saya. Hmm, sampai saat inipun saya belum mengerti
apa yang istimewa dari saya selain cepat ngambek, cepat baik, tiba-tiba suka
teriak-teriak, tiba-tiba jadi pendiam. Hohoho… itu moody atau stress yah… Saya
memang banyak kenal orang, punya banyak teman, bisa menyapa siapa saja bila
bertemu di jalan, tapi sahabat saya tidak banyak. Hingga saat ini, bisa
dihitung jari yang mau jadi sahabat saya. Ya karena itu tadi, tidak banyak yang
mampu menerima diri saya yang kadang menyebalkan ketika sedang dinamis
menghadapi suatu hal. Ketika mengutarakan mau, atau ketika tidak suka akan
sesuatu.
Sampai
pada suatu hari, di hari-hari yang saya anggap buruk, seseorang menghubungi
saya, saling bertukar foto dan berbicara dengan video call. Kemudian 3 x 24 jam
tak menutup ponselnya non-stop. Entah apa yang kami bicarakan. Sudah lupa. Kami
terdiam sejenak saat saya mengajar, saat dia juga menyibukkan diri di
kantornya. Seseorang itu adalah ayah dari dua buah hati saya, bersedia
mendampingi saya hingga hari ini. Mungkin banyak orang yang mengenalnya
berpikir, mengapa dirinya mengorbankan segalanya untuk bersama saya. Hanya
dalam 3 hari memutuskan untuk memberikan jiwa raga nya untuk setia pada saya.
Bahkan rela mengalami masa terpuruk bersama saya.
Buat saya…
Dia
adalah orang yang paling mengerti mengenai minat saya. Walau saya adalah
seorang guru, tapi saya lebih banyak antusias bercerita tentang seni padanya.
Bukan tentang anak-anak di kelas saya. Saya cerita tentang bros-bros yang saya
buat, keinginan saya mendalami dunia jahit-menjahit, tentang saya yang punya
mimpi menjadi penulis ternama, tentang saya yang lebih banyak punya
khayalan-khayalan hampa tanpa tahu, salah satu yang mana yang nantinya akan
terwujud. Itu pertama kalinya saya merasa sangat diterima. Karena sejauh itu,
hanya ia yang mengerti mau saya.
Dia
rela bergadang bermalam-malam demi membantu saya menyelesaikan pesanan souvenir
saya. Kadang dia juga selalu bertanya tentang perkembangan mengenai hobi
menulis saya. Ia selalu bertanya kapan saya akan berani menyerahkan novel atau
cerpen saya ke redaksi penerbit (meskipun hingga saat ini minder saya masih
lebih besar dari percaya diri saya), mendukung saya, menguatkan pendapatnya
kalau saya mampu mewujudkan impian saya. Untuk pertama kalinya saya merasa seseorang
setelah BUNDA saya mengakui kemampuan saya yang tidak seberapa menjadi
terdengar luar biasa.
Dia
bisa mengikuti ritme hidup saya yang berubah-ubah. Ada masanya saya senang
sekali berhari-hari berkutat di dapur masak beraneka ragam masakan, kue,
camilan, minuman, yang membuat seisi rumah merasa senang, bangga, dan tidak
merasa kelaparan. Dan dalam waktu singkat, hitungan detik saya berhenti dengan
alasan bosan. Dan berminggu-minggu tidak ada apapun pergerakan di dapur,
kemudian hanya secangkir teh dan roti selai di atas meja makan. Kadang
tiba-tiba saya berjam-jam duduk diam di kamar bunda hanya karena ingin mencoba
hasil karya baru, entah bros, bandana, sepatu baby atau apalah yang berkaitan
dengan keterampilan satu ini. Membiarkannya sibuk bermain dengan dua buah hati saya
di kamar. Dan kembali berhenti, mengumpulkan debu dalam kotak crafting saya.
Alasannya sama. Sedikit bosan, dan buntu ide. Hahaha… dan Dia tetap setia
menerima kekurangan saya ini.
Dia
Dia
yang menerima kurang saya, dia yang tak pernah lelah akan mau saya, dia yang
selalu ada ketika saya jatuh dan hampir terluka.
Dia.
Dia
yang berusaha menyeimbangkan langkah saya, walau terkadang mundur beberapa
langkah untuk berlari lebih jauh. Dia yang menanggapi setiap ide saya, dia yang
mendengarkan setiap pengetahuan yang baru saya terima.
Dia.
Dia
yang merentangkan kembali sayap saya yang telah patah karena sempat tak percaya
cinta, dia yang membangunkan saya bahwa hidup itu jauh lebih indah dari
mimpi...
Hari
ini, kami sudah memiliki dua orang anak laki-laki yang sungguh luar biasa. Sungguh
saya masih sangat bersyukur dimiliki, dan memiliki mereka :)
Ada yang pernah mengatakan, "tidak ada orang yang sudah
pintar dan mahir berumah tangga, yang ada adalah yang terus berusaha belajar
dan beradaptasi dengan episode kehidupan rumah tangga."
Alhamdulillah bulan November ini tidak
terasa sudah memasuki usia pernikahan ke 6 tahun… tak terasa :) 6 years of
marriage, and still counting, and we do still learning :)
doakan
kami yaaa.. semoga menjadi keluarga yang benar benar sakinah mawaddah warahmah
:) aamiin..
Tarakan,
28 November 2009 – 28 November 2015