Sabtu, 28 November 2015

28 November, 6 Tahun Lalu...

Dan karena itulah aku mencintaimu…

Banyak yang mungkin menganggap saya aneh, kudet, ribet, tukang ribut dan beragam anggapan lainnya. Tidak banyak orang yang mampu bertahan tahunan bersama saya, dengan segala kericuhan yang saya miliki. Tapi ya beginilah saya.
Mantan pacar saya tidak banyak. Mungkin bisa jadi karena terlalu ribetnya hubungan saya. Tidak boleh begini, tidak mau begitu. Saya tidak pernah ambil pusing. Toh kalau cinta, harusnya kekurangan itu dibicarakan, bukan? Atau mungkin apalah… apalah… begitu kan yah? Dan tak mau ambil pusing isi kata “apalah… apalah…” itu!
Tidak ada yang menarik dalam diri saya. Hmm, sampai saat inipun saya belum mengerti apa yang istimewa dari saya selain cepat ngambek, cepat baik, tiba-tiba suka teriak-teriak, tiba-tiba jadi pendiam. Hohoho… itu moody atau stress yah… Saya memang banyak kenal orang, punya banyak teman, bisa menyapa siapa saja bila bertemu di jalan, tapi sahabat saya tidak banyak. Hingga saat ini, bisa dihitung jari yang mau jadi sahabat saya. Ya karena itu tadi, tidak banyak yang mampu menerima diri saya yang kadang menyebalkan ketika sedang dinamis menghadapi suatu hal. Ketika mengutarakan mau, atau ketika tidak suka akan sesuatu.
Sampai pada suatu hari, di hari-hari yang saya anggap buruk, seseorang menghubungi saya, saling bertukar foto dan berbicara dengan video call. Kemudian 3 x 24 jam tak menutup ponselnya non-stop. Entah apa yang kami bicarakan. Sudah lupa. Kami terdiam sejenak saat saya mengajar, saat dia juga menyibukkan diri di kantornya. Seseorang itu adalah ayah dari dua buah hati saya, bersedia mendampingi saya hingga hari ini. Mungkin banyak orang yang mengenalnya berpikir, mengapa dirinya mengorbankan segalanya untuk bersama saya. Hanya dalam 3 hari memutuskan untuk memberikan jiwa raga nya untuk setia pada saya. Bahkan rela mengalami masa terpuruk bersama saya.

Buat saya…

Dia adalah orang yang paling mengerti mengenai minat saya. Walau saya adalah seorang guru, tapi saya lebih banyak antusias bercerita tentang seni padanya. Bukan tentang anak-anak di kelas saya. Saya cerita tentang bros-bros yang saya buat, keinginan saya mendalami dunia jahit-menjahit, tentang saya yang punya mimpi menjadi penulis ternama, tentang saya yang lebih banyak punya khayalan-khayalan hampa tanpa tahu, salah satu yang mana yang nantinya akan terwujud. Itu pertama kalinya saya merasa sangat diterima. Karena sejauh itu, hanya ia yang mengerti mau saya.
Dia rela bergadang bermalam-malam demi membantu saya menyelesaikan pesanan souvenir saya. Kadang dia juga selalu bertanya tentang perkembangan mengenai hobi menulis saya. Ia selalu bertanya kapan saya akan berani menyerahkan novel atau cerpen saya ke redaksi penerbit (meskipun hingga saat ini minder saya masih lebih besar dari percaya diri saya), mendukung saya, menguatkan pendapatnya kalau saya mampu mewujudkan impian saya. Untuk pertama kalinya saya merasa seseorang setelah BUNDA saya mengakui kemampuan saya yang tidak seberapa menjadi terdengar luar biasa.
Dia bisa mengikuti ritme hidup saya yang berubah-ubah. Ada masanya saya senang sekali berhari-hari berkutat di dapur masak beraneka ragam masakan, kue, camilan, minuman, yang membuat seisi rumah merasa senang, bangga, dan tidak merasa kelaparan. Dan dalam waktu singkat, hitungan detik saya berhenti dengan alasan bosan. Dan berminggu-minggu tidak ada apapun pergerakan di dapur, kemudian hanya secangkir teh dan roti selai di atas meja makan. Kadang tiba-tiba saya berjam-jam duduk diam di kamar bunda hanya karena ingin mencoba hasil karya baru, entah bros, bandana, sepatu baby atau apalah yang berkaitan dengan keterampilan satu ini. Membiarkannya sibuk bermain dengan dua buah hati saya di kamar. Dan kembali berhenti, mengumpulkan debu dalam kotak crafting saya. Alasannya sama. Sedikit bosan, dan buntu ide. Hahaha… dan Dia tetap setia menerima kekurangan saya ini.

Dia
Dia yang menerima kurang saya, dia yang tak pernah lelah akan mau saya, dia yang selalu ada ketika saya jatuh dan hampir terluka.

Dia.
Dia yang berusaha menyeimbangkan langkah saya, walau terkadang mundur beberapa langkah untuk berlari lebih jauh. Dia yang menanggapi setiap ide saya, dia yang mendengarkan setiap pengetahuan yang baru saya terima.

Dia.
Dia yang merentangkan kembali sayap saya yang telah patah karena sempat tak percaya cinta, dia yang membangunkan saya bahwa hidup itu jauh lebih indah dari mimpi...

Hari ini, kami sudah memiliki dua orang anak laki-laki yang sungguh luar biasa. Sungguh saya masih sangat bersyukur dimiliki, dan memiliki mereka :)

Ada yang pernah mengatakan, "tidak ada orang yang sudah pintar dan mahir berumah tangga, yang ada adalah yang terus berusaha belajar dan beradaptasi dengan episode kehidupan rumah tangga."

Alhamdulillah bulan November ini tidak terasa sudah memasuki usia pernikahan ke 6 tahun… tak terasa :) 6 years of marriage, and still counting, and we do still learning :)

doakan kami yaaa.. semoga menjadi keluarga yang benar benar sakinah mawaddah warahmah :) aamiin..


Tarakan, 28 November 2009 – 28 November 2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih untuk waktu nya membaca blog saya :)
Mohon berikan komentar dengan bahasa yang baik yah...