Hujan…
Biasanya Ibu begitu menyukai suara
gemericik air yang menyentuh atap rumah secara teratur itu. Terdengar seperti
melodi yang begitu selaras. tapi mengapa tidak begitu siang ini?
Seperti saat ini, Ibu terus
menemanimu yang sedang lelap. Entah apa yang kau mimpikan, nak? Wajah mungilmu
begitu teduh. Kulit putihmu membuat Ibu tak pernah lelah mengusap rambut-rambut
kecil di dahimu agar kau tetap terlelap. Tak terganggu hiruk-pikuk kesibukan di
sekeliling kita.
Dan pada tiap belaian tangan Ibu,
kembali hadir bayangan senyumanmu yang tak pernah lepas dari bibir indahmu.
Terkadang membuat Ibu begitu bahagia melihatnya hingga Ibu lupa, kapan terakhir
kali kau menangis.
“Ratih, coba tebak, hari ini Anggun
sudah bisa apa?” Tanya tante Adel, adik semata wayang Ibu ketika baru saja Ibu
pulang dari kantor. Wajahnya cukup gembira.
“apalagi?” Tanya Ibu begitu tak
sabar dan bertanya dengan mata berbinar.
“Anggun, sini nak” panggil tante Adel
pada keponakannya yang berusia 10 bulan itu.
Sungguh bahagia melihatmu berdiri
tegak, nak. Berjalan tertatih-tatih menuju ke arah Ibu sambil merentangkan
tangan agar segera Ibu sambut. Andai masih mampu kau mengingatnya, nak. Baru
saja Ibu ingin menyambutmu, Ayahmu datang dengan tangan terbuka, lebih dulu
meraih dan menggendongmu dengan bangganya. Ah, begitu cepat waktu itu berlalu,
nak. Kebahagiaan Ayah dan Ibu saat itu tak ternilai.
Fikiran Ibu berpendar lebih jauh
mengingat ketika kau baru lahir, putri kecil ku. Keriuhan suara gelak tawa dan
kegembiraan begitu jelas tergambarkan di ruangan bersalin. Hampir delapan jam Ibu
menahan sakit hingga akhirnya kau mau keluar untuk melihat dunia, nak. Pancaran
senyuman Ayahmu yang pendiam terlihat begitu bahagia. Nenek menggendongmu
seakan tak mau melepaskanmu dan membagi kebahagiaannya dengan orang lain. Tentu
saja, sebab kau cucu pertama keluarga kita, nak. Ibu ingat sebulan kehamilan Ibu,
Ibu sudah menyiapkan namamu Anggun Permata Delima. Bagus kan, nak? Ibu yakin
kau suka dengan nama itu. Terbukti bila ada yang menanyakan namamu, dengan
bangga dan tegas kau sebut, Anggun!
Entah sudah berapa lama Ibu
menikmati wajahmu yang dipenuhi mimpi hingga Ibu merasa, tante Adel mengusap
punggung Ibu perlahan. Menyodorkan secangkir teh hangat untuk Ibu minum.
“kita tunggu hujannya berhenti, ya”
ujarnya kemudian berdiri menghilang entah mau kemana lagi dia.
Kembali Ibu menatapmu, yang belum
juga mau terbangun. Tak apa, hujannya juga belum reda. Biarkan Ibu terus
menemanimu disini. Biarkan Ibu menikmati waktu bersamamu. Ibu senang melihat matamu,
nak. Bulu matamu sungguh lentik. Kau tak perlu ke salon hanya karena ingin
membuat matamu terlihat indah. Wajahmu memang menawan.
Ibu baru ingat, minggu lalu kau
mengajak Ibu ke toko buku. Sayangnya, Ibu kurang sehat. Kapan mau pergi, nak?
Biasanya memang kau tak pernah pergi tanpa Ibu. Meskipun kau pergi bersama
teman-temanmu, dan selalu kau mengajak Ibu. Kau selalu ingin Ibu tahu siapa
teman-temanmu, apa aktivitasmu, dan apa yang kau mau.
Pernah sekali waktu, kita
menghabiskan sore di taman bersama Ayahmu. Langit tak mendung tapi hujan begitu
deras turun tiba-tiba. Bukannya lari berteduh, kau malah mengajak Ayah dan Ibu
berlari dan menari di tengah hujan, bak adegan film india. Dengan riangnya kau
menarik tangan Ayah dan Ibu dengan paksa. Ah, Anggun! Bagaimana Ayah dan Ibu
mampu menolakmu, nak? Kau selalu punya cara agar Ayah dan Ibu tak ingin
membuatmu kecewa. Alhasil, kau sakit seminggu dan membuat kau harus menginap
tiga hari dirumah sakit. Ibu ingat betapa marahnya nenek melihat sakitmu karena
bermain hujan. Dan ternyata Ayah dan Ibu yang merestui tingkahmu itu.
Ibu ingat, pertama kali kau membawa
mobil tanpa pamit dan tidak punya SIM. Saat itu kau baru kelas satu SMA. Entah
siapa yang mengajarimu menyetir. Tapi tiba-tiba saja kau membawa mobil dan
pulang pukul lima sore. Untuk pertama kalinya kau pergi tanpa pamit pada Ibu. Ibu
ingat betapa marahnya Ayah dan Ibu saat itu padamu. Kau tahu, Anggun? Ibu marah
padamu karena Ibu khawatir. Ibu tak pernah tahu seberapa mahir kau menyetir,
kapan kau mulai bisa menyetir dan kemana kau pergi tanpa pamit. Ibu gelisah,
nak. Sungguh lega hati Ibu melihat kau kembali dengan selamat. Memarkir mobil
dengan baik. Tapi Ibu selalu bangga pada mu, nak. Sekali itu kau lihat Ibu
marah dan menangis. Tak pernah kau ulangi lagi perbuatanmu. Tak pernah lagi kau
pergi tanpa pamit.
Kali ini Ayahmu, mengusap punggung Ibu,
mengagetkan Ibu yang sedang asyik menikmati suara hujan, tanpa ingin
membangunkanmu.
“bu, kita masih nunggu Tito. Ibu mau
baring dulu?” tawar Ayahmu yang menarik tubuh Ibu. Tapi Ibu ingin disampingmu
saja, nak.
Anggun, kau ingat nak hari ulang
tahunmu yang ke 20? Sungguh tak ada yang kau minta selain kamarmu di cat dengan
warna merah muda. Kau minta lemari dan tempat tidur berwarna senada. Kau
sendiri yang mencari sprei dan selimut merah muda bergambar bunga. Kau hiasi
dengan benda-benda berwarna sama. Sungguh, terlihat sekali kau memang anak yang
lemah lembut, nak. Warna kesukaan mu juga membuktikan hal itu. Tak terasa kau
begitu cepat tumbuh menjadi gadis yang ramah. Kau juga menyukai anak-anak
kecil. Silih berganti anak-anak itu kau bawa pulang ke rumah. Meramaikan rumah
kita dengan kelucuan dan keluguan mereka.
Semakin hari kau semakin cantik,
nak. Wajahmu yang teduh membuat kau tak merubah diri menjadi begitu sombong.
Kau semakin ramah. Kau semakin punya banyak teman. Sungguh, Ibu bangga padamu,
nak. Tak sedikitpun kau membedakan teman-teman yang kau miliki.
Entah, apakah tante Adel sedari tadi
di samping Ibu atau hilir mudik, ikut menyibukkan diri ditengah keramaian. Yang
Ibu ingat, dia kembali membelai punggung Ibu.
“mama sudah datang, Ratih” ucap
tante Adel kemudian beranjak meninggalkan Ibu.
Ibu hanya menoleh, melihat nenekmu
sejenak yang ternyata sudah ada disamping Ibu. Ibu melihat nenek yang mencium
keningmu, membelaimu, tapi kau masih saja terlelap dalam mimpi indahmu, nak.
Biarlah, bila nanti saatnya tiba, barulah kita beranjak bersama dari sini.
Hujan pun belum berhenti, nak. Bahkan terasa semakin deras.
Ibu baru ingat, saat SMP, kau juga pernah
mengendarai sepeda motor dan jatuh. Kau uring-uringan karena tanganmu akan
meninggalkan bekas luka.
“bu, Anggun kan malu kalo ini kelihatan”
rengekmu saat itu sambil Ibu menyuapi nasi ke mulutmu.
“nggak apa-apa, Anggun… kamu kan
pake jilbab ini, nggak ada yang tahu” Ibu berusaha menenangkanmu.
Satu hal lagi yang membuat Ibu
bangga padamu, kau tak sekalipun membantah ucapan Ibu. Kau hanya terus
mengunyah makananmu dengan baik sampai menghabiskannya. Anggun, sudahkah kau
puas dengan apa yang Ibu berikan, nak? Apalagi yang kau minta, nak? Beritahukan
pada Ibu. Ibu akan mengabulkan selagi Ibu mampu. Seperti biasa, mintalah tanpa
merengek. Cukup tunjukkan yang kau mau, nak. Ibu selalu senang saat Ibu katakan
“sabar, ya… seminggu lagi” kau hanya mengangguk tersenyum dan tak lagi meminta.
Menunggu tanpa menagih, hingga yang kau mau tercapai.
Nak, Ibu tahu kau tak mau terpisah
dari Ibu. Bahkan ketika kau lulus sekolah. Ibu memintamu memilih kota mana yang
kau inginkan untuk melanjutkan kuliah. Kau tetap memilih disini, bersama Ibu.
Disamping Ayah dan Ibu. Kau selalu bilang, tak bisa merawat diri sendiri saat
sedang sakit. Kau selalu butuh Ibu untuk membangunkanmu saat subuh. Padahal Ibu
tahu, kau sudah bangun ketika adzan subuh berkumandang. Tapi kau lebih memilih
bangun dengan suara Ibu yang mengganggu tidurmu.
Kali ini, Ibu tak akan
membangunkanmu, meski Ibu ingin. Tak tega melihat tidur pulasmu. Ibu hanya
mampu mengusap dahimu. Hujan diluar mulai reda, nak. Ibu baru ingat kau hanya
makan roti pagi tadi sebelum berangkat ke kantor. Ibu sudah mengajakmu sarapan
nasi, kenapa kau tidak mau nak? Sudah tidak enakkah masakan Ibu?
“bu, Tito sudah sampai” suara Ayah
yang terdengar serak membuyarkan semua kenangan Ibu bersamamu.
Tito menghambur memeluk Ibu. Tangisanpun
pecah. Adikmu sudah datang, Anggun. Lihatlah, nak. Kau sempat menhubunginya
pagi tadi untuk menanyakan skripsinya. Dia datang untukmu, nak.
“kenapa bisa, bu?” Tanya Tito dalam
isak tangis.
Ibu baru sadar, begitu banyak orang
berkumpul dirumah kita. Tenda diluar sudah terpasang entah kapan. Adzan dzuhur
pun sudah berkumandang satu jam yang lalu. Kembali Ibu mengingat kejadian tadi
pagi yang begitu cepat. Kau menuruni tangga dari kamarmu, bersiap menuju
kantor. Entah kenapa kakimu bisa terkilir dan membuatmu terpeleset, nak?
Kepalamu terbentur. Tak ada darah dan kau tak sadarkan diri. Ayah dan Ibu
membawamu segera ke rumah sakit. Dan kenapa kau tak mau bangun?
Ibu ingat tadi pagi, kau masih
sarapan sembari bercanda dengan Ayah. Tertawa riang. Pagi tadi kau memeluk
hangat Ayah dan Ibu. Hal yang tak biasa kau lakukan sebelum pergi ke kantor.
Mengecup kening Ibu kemudian menelpon Tito di ruang tengah. Entah apa yang kau
bicarakan dengan adik kesayanganmu itu. Yang Ibu ingat samar-samar, kau ingin Tito
segera pulang. Menemanimu dirumah, menemani Ibu karena rumah begitu sepi.
Ah, Anggunku! Inikah pertanda yang
kau berikan, nak? Bisakah kita mengulang waktu sejenak, nak? Ibu ingin
menemanimu ke toko buku, nak. Apa yang ingin kau cari, nak? Andai kau bilang,
dari kemarin kau ingin Tito pulang, akan Ibu kirimkan uang tiketnya, nak.
Kenapa kau pergi dan tak pamit, nak? Bukankah kau takut Ibu marah dan menangis
karena kau pergi tanpa pamit? Lalu kenapa kau lakukan lagi? Kenapa Anggun?
Kembali Ibu usap keningmu. Kali ini Ibu
mencium keningmu. Untuk yang terakhir. Dingin. Sakitkah, nak? Ibu ingin
membelai pipi mu yang lembut. Dan semua terasa seperti mimpi ketika Ibu membuka
mata. Tante Adel bilang, Ibu sudah empat kali tak sadarkan diri. Benarkah? Salahkah
Ibu yang begitu kaget dengan kepergianmu, nak? Salahkah Ibu yang begitu
terpuruk karena Ibu tak tahu kau akan meninggalkan Ibu? Kenapa, nak? Kenapa Anggun?
Kenapa pergi tanpa pamit?
Satu persatu keluarga dan kerabat
mencium keningmu. Mengikhlaskan perjalananmu menuju syurga Allah SWT. Anggun,
lihatlah Ayahmu, nak. Dua puluh delapan tahun Ibu bersamanya, baru kali ini Ibu
melihat Ayahmu terpuruk. Menangis sejadi-jadinya. Airmata yang ia tahan sedari
pagi tumpah ketika melihat wajah mungilmu yang begitu nyenyak. Lihatlah, Anggun.
Bahkan rasa sakitnya mungkin lebih perih dari orang yang patah hati. Ah, Anggun!
Putri kesayangan Ibu.
Adzan ashar berkumandang dan langit
telah cerah. Seakan sudah memberi jalan agar kau bisa keluar dari rumah dengan
tenang.
“pemakamannya sudah, siap” ujar
seseorang yang entah siapa, memberitahukan pada Ayah. Ibu hanya mampu melihat Ayah
mengangguk.
Kemudian tubuhmu diangkat menuju
ruang belakang. Dibersihkan dan dimandikan. Dan tiba saatnya kau harus ditutup
dengan baik. Kini kau berpakaian lengkap dan telah siap untuk menghadap Allah
SWT.
Anggun Permata Delima. Sepertinya
baru kemarin Ibu merasa mengandungmu. Anggun Permata Delima. Sepertinya baru
kemarin Ibu mendengar riang tawa ruangan rumah sakit bersalin menyambut
kehadiranmu. Anggun permata Delima. Sepertinya baru terasa kemarin kau
tertatih-tatih menuju ke arah Ayah dan Ibu dengan kaki mungilmu. Anggun Permata
Delima. Sepertinya baru kemarin celoteh bibir tipismu memanggilku ‘Ibu’. Ah, Anggun
Permata Delima-ku. Hari ini kau pergi memenuhi janjimu, nak.
Begitu ramai rumah ini mengiringi
kepergianmu. Kaki Ibu terasa seperti tak memijak bumi. Ibu rasakan hangat
tangan tante Adel. Sungguh, Ibu tidak sendiri dalam kesedihan ini. Ada tante
Adel yang tentunya juga sangat bersedih. Dia yang menjagamu sepanjang pagi
hingga sore saat Ayah dan Ibu bekerja. Dia yang menyuapimu, menggantikan peran Ibu.
Tante Adel yang mengajarimu bernyanyi, berjalan hingga kau suka menari. Dia
yang mengajarimu mengenal hujan. Dia yang membuatmu suka wangi tanah yang
terkena gemericik air hujan. Dia pula yang selalu menggendongmu melihat
pelangi. Dia tahu kau begitu menantikan pelangi-pelangi itu muncul.
Hari ini pun hujan tetap menemanimu,
nak. Sekilas Ibu melihat segerombolan orang mengantarkanmu menuju masjid.
Menshalatkanmu. Mendo’akanmu. Samar Ibu mendengar beberapa orang membicarakan
kebaikanmu, keramahanmu. Ah, semoga hanya kebaikanmu yang selalu teringat.
Ibu mendo’akanmu dari sini, nak.
Selamat jalan, sayang. Semoga Allah menempatkan dirimu ditempat terindah.
Bertemankan bidadari-bidadari syurga-Nya. Biarlah tetesan airmata ini mengalir
dan berubah menjadi butiran-butiran do’a dan keikhlasan. Tidurlah dengan tenang
di sisi Allah SWT, nak. Aamiin.
Kembali Ibu berbalik setelah kau
pergi menghilang bersama segerombolan orang-orang yang mengantarkan mu.
Dikamarmu, tinggal Ibu, tante Adel dan nenek. Menatap kamar kosong yang begitu
rapi dan bersih. Aroma jeruk segar memenuhi ruangan. Aroma kesukaanmu. Foto-foto
mu terpampang jelas. Boneka-boneka kesayanganmu tersusun rapi. Mungkinkan kau
sudah tahu akan pergi, nak? Semua kau tata rapi agar mudah kami mencari yang
kami perlukan. Semua tanpa debu. Kau memang gadis yang rajin, nak. Bahkan
mukenamu yang biasanya kau gantung, sudah kau lipat rapi dan kau letakkan
disudut tempat tidur.
“yang tabah ya, nak” nenek begitu
tegar. Menenangkan Ibu. Memeluk hangat.
Terlalu singkat rasanya, nak. Dua
puluh enam tahun. Rasanya belum puas Ibu merawatmu. Memanjakanmu. Belum banyak
yang Ibu berikan. Sekarang hanya do’a yang mampu Ibu berikan, nak. Benarkah
hati ibu telah siap kehilanganmu selamanya, nak? Sepertinya belum. Tapi ibu
akan belajar ikhlas. Ibu mendengar permintaan nenekmu lirih. “ikhlas, Ratih.
Supaya Anggun tenang disana”
“Inshaa Allah, Ibu ikhlas, nak…
Inshaa Allah”
“apa mau disiapkan sekarang?” Tanya
tante Adel. Tante Adel ingin merapikan semua peninggalanmu untuk disedekahkan.
Agar bisa menjadi amal terakhir untukmu di alam sana.
“jangan dulu… bisakah dua atau tiga
hari lagi, Del? Aku masih ingin melihat kamar ini tetap seperti ini… sejenak
saja” Ibu meminta karena sungguh Ibu belum sanggup, nak. Mohon maklumi ini
semua.
Terlihat foto mu bersama Tito yang
begitu mesra. Usiamu yang hanya berjarak dua tahun dengan Tito membuat kalian
terlihat seperti seusia. Kalian begitu bersahabat, begitu dekat. Tak seharipun
kalian lewatkan tanpa berkomunikasi. Bahkan Tito lebih sering menghubungimu,
daripada menghubungi Ibu.
Kau ingat, nak. Wajah lugu mu begitu
riang melihat Tito kecil yang baru saja lahir. Kaki mungilmu berlompatan kesana
kemari, sibuk ingin menggedong Tito kecil. Mencium tanpa lelah. Lucu wajahmu
ketika tertidur disamping Tito setelah seharian bermain dengannya. Tak
sekalipun kau terlihat iri ketika Ibu sibuk mengurusi Tito. Bahkan kau pun
sibuk ingin menggantikan ibu memandikan Tito. Tak sekalipun hingga saat
terakhirmu pagi tadi, ada suara menggerutu pada Tito.
Sungguh Ibu masih belum percaya yang
terjadi hari ini, nak. Tadi pagi senyum manismu menghiasi seluruh ruangan ini. Benarkah
kau pergi meninggalkan Ibu selamanya? Ah, Anggun… Ibu tak berfikir tentang hal
terburuk sekalipun! Ibu hanya berfikir kau hanya sejenak tak sadarkan diri,
nak. Ibu hanya berfikir sebentar lagi kau akan terbangun dari pingsanmu.
Bukankah kau hanya sekedar terjatuh, nak?
Terasa pijatan hangat tangan tante
Adel di tubuh Ibu. Entah sejak kapan Ibu terbaring di kamar mu yang nyaman ini.
Entah kapan Ibu kembali tak sadarkan diri. Ibu hanya melihat, Tito sudah ada
disamping Ibu, menggenggam tangan Ibu. Sudah tenangkah di sana, nak? Bagaimana
tempatmu yang baru? Nyaman kah, putri kecil ku? Sungguh tak sekalipun melintas
dibenak Ibu, kau pergi lebih dulu sebelum Ibu menua. Jaga dirimu disana, sayang.
Jangan takut, nak. Ibu akan mendo’akanmu dari sini agar tempat terakhirmu akan
selalu terang, hangat dan nyaman.
Ya Allah, tempatkan putriku di
tempat terindah-Mu. Terima semua amal ibadah dan kebaikannya. Jauhkan Anggun
dari siksa kubur-Mu ya Rabb. Aamiin.
Gemericik hujan malam ini kembali
menemani Ibu. Tenanglah, nak. Jangan bimbangkan Ibu. Ibu tak sendiri menikmati
hujan meski tanpamu. Seperti pintamu, ada Tito disini yang masih sedari tadi
setia menggenggam tangan Ibu. Ada tante Adel yang setia menyiapkan teh hangat
untuk Ibu. Ada nenek dan Ayah yang masih melantukan do’a bersama kerabat yang
lain untukmu. Semoga do’a itu menghangatkanmu di sana, nak. Ibu masih di sini.
Di kamar mu yang nyaman, menikmati hujan disudut jendela. Namun kali ini, tanpa
pelangi.
Kematian
adalah pasti. Tidak ada tawar menawar. Entah sakit ataupun mendadak bak petir
yang menggelegar! Seperti barang berharga yang terampas tiba-tiba dari tangan
kita, dari hati kita. Entah siap atau
tidak, kita tetap harus berupaya menerima dan mengikhlaskannya. Semoga kita
selalu mampu beristiqomah dalam menjalani segala hal yang ditakdirkan Allah
SWT. Agar kita bisa kembali berhimpun di syurga-Nya yang kekal. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih untuk waktu nya membaca blog saya :)
Mohon berikan komentar dengan bahasa yang baik yah...