Cukup
lama ku pandangi punggung itu. Sudah lama aku terbiasa bersembunyi dibalik
punggung itu. Dada bidang si pemilik punggung itu selalu menghangatkan tiap
malam yang ku punya. Mengantarkan ku pada mimpi-mimpi indah yang selalu ku nanti
di tiap malamnya. Ah! Baru saja subuh tadi aku masih terpesona pada punggung
yang penuh khusyuk dalam untaian do’a-do’anya. Baru subuh tadi, aku masih
percaya bahwa dia adalah imamku, pemimpin yang akan membawaku menuju surga-Nya.
Dia yang selalu tak pernah melepaskan tiap do’anya untukku, untuk anak-anak
kami.
Tentu saja aku harus percaya
padanya. 10 tahun kami jalani semua rintangan bersama. 10 tahun kami menyatukan
asa agar mampu meraihnya hingga ke puncak. 10 tahun kami lalui agar dapat
senyum kami selalu mengembang dan mengucap syukur pada pemberian sang Pencipta
pada kami yang lebih dari cukup. 10 tahun dengan kesabaran dia membimbingku
dalam tiap sujudnya.
Ah! Lagi-lagi aku menerawang ke
langit-langit kamar. Kemana kepercayaan itu menguap? Kenapa begitu cepat kepercayaan
itu menghilang? Cukupkah karena alasan itu? Cukupkah yang ku lihat menjadi
penyebab runtuhnya sebuah kepercayaan yang ku bangun selama ini? Kepercayaan
yang ku bangun dengan begitu kokohnya! Kepercayaan yang kurajut dengan benang
bernama do’a.
Pagi ini ku lihat kekasih hatiku
sedang tergesa-gesa. Sedikit ia bersuara meneriakan beberapa benda untuk minta
diantarkan ke dalam mobil. Aku sudah terbiasa dengan keadaan ini. Ku lihat dia
masih berkutat sebentar di depan komputer di ruang kerjanya. Komputer lama yang
tak pernah mau ia singkirkan meski zaman telah berubah. Tentu saja ia punya
sebuah laptop. Sambil bercakap-cakap pelan via ponsel dan membuka beberapa
arsip. Teriakan putra-putri ku membuatnya lebih cepat beringsut dari layar
monitor, berlari kecil seraya mengecup keningku dengan lembut, dan melambaikan
tangan sambil terus berbicara dengan seseorang di ponselnya.
Setelah mereka pergi, aku
menyinggahi ruang kerja suamiku. Disana ada remah roti bakar yang berhamburan.
Kopinya pun sudah habis diminum. Ku ambil tissue untuk membersihkan sisa
makanan itu sambil melirik layar monitor. Kebiasaan suamiku selalu lupa
mematikan komputernya bila tergesa. Tapi kali ini berbeda. Dia lupa keluar dari
email pribadi dan akun facebooknya. Dahiku mengeryit heran. Suamiku? Ku ingat
beberapa tahun lalu, dia mengatakan tidak begitu menyukai facebook. Dia memang
memiliki akun facebook tapi enggan membukanya.
Entahlah, apakah sang Maha
Mengetahui sedang membimbing tangan dan mataku? Ku lihat kotak masuk pada
emailnya dengan hati bergetar. Jantungku tidak lagi berirama serasi. Dadaku
seperti menerima beberapa gumpalan asap hingga sulit bernafas teratur. Beberapa
menit yang lalu sebelum dia pergi ke kantor, ada pesan untuk facebooknya.
Perlahan ku buka facebooknya, ku buka pesan. Dan… kosong! Apa ini? Tertera
sebuah pesan yang terakhir di terimanya tahun lalu. Mata ku terasa panas. Ada
sesuatu disana? Kembali sengaja ku buka emailnya dengan lebih teliti. Ku
cocokkan tanggal-tanggal pemberitahuan pesan-pesan itu. Pesan yang berlangsung
sejak enam bulan yang lalu. Ya Allah… pemberitahuan itu ada. Tapi tak
sedikitpun tertera di facebooknya.
Kini Kristal itu berjatuhan. Aku
menangis! Tapi untuk apa? Untuk siapa? Karena apa? Kenapa tangisan ini pun tak
berhenti. Malah semakin menjadi. Kemana aku selama ini? Apa gunanya kepercayaan
yang kuberikan selama ini? Ataukah hanya aku yang kurang perasa? Terbuai oleh
semua sikap manis yang ia tunjukkan. Sikapku yang mana yang menyalahi hubungan
kami? Hei, sudah 10 tahun, bukan?
Dengan sekuat tenaga tetap ku buka
beberapa email yang masuk bertahun-tahun lalu. Tepat dua hari sebelum pernikahan
ada seorang wanita yang masih mengirimkan email padanya. Yang mengatakan
hatinya masih terpaut pada suamiku dan sulit melupakannya. Mengirimkan beberapa
foto dan beberapa lagu yang harus di dengarkan tiap mereka saling merindukan.
Email yang berlangsung hingga usia pernikahan menginjak tahun kedua kemudian
menghilang. Sungguh cantik wanita itu.
Lalu, siapa pengirim pesan melalui
facebooknya? Pria atau wanita? Kenapa harus dihapus? Ah sudahlah! Ku tutup
semua yang ku lihat. Ku matikan layar monitor itu dan bergegas berbenah seperti
biasa meski semua sudah hancur. Hancur berkeping-keping tak tersisa.
Disini, di tepi tempat tidur, ku
pandangi lagi sosok lelaki yang menemani hariku, membahagiakan tanpa celah. Ku
beranikan diri sore tadi bertanya sepulang kantor. Dia hanya terdiam dengan
mata berkaca-kaca. Ah, sudahlah! Itu sudah cukup menjadi jawaban.
“apa yang salah padaku? Apa karena
kita dijodohkan? Bukankah kau menerimanya?” tanyaku dengan mulut bergetar
seraya menahan perihnya rasa sakit di hatiku. Suamiku hanya menggeleng
perlahan. “sehari setelah pernikahan aku sungguh jatuh cinta padamu, kau tak
sebanding dengan wanita-wanita yang selama ini kutemui. Kepadanya, aku hanya
meluangkan waktu mendengar curahan hati nya” jawab suamiku, dengan menahan
tangisnya. “hingga hari ini? Untuk apa?” Tanya ku lagi. Dan kali ini kami
benar-benar diam.
Aku beranjak dari duduk diamku
sedari tadi. Mengemasi beberapa pakaian, ku lipat rapi ke dalam tas. Untuk
pertama kali setelah 10 tahun. Ku ajak anak-anak berlibur. Aku merindukan
suasana kampung yang tenang. Entah ini benar atau tidak. Aku hanya ingin
sedikit melegakan nafas yang sesak, mengelus dada yang bergetar, mengatur
kembali irama jantung agar degupannya senada. Mendinginkan mata yang terasa
panas dan mulai menyipit karena Kristal yang tak pernah berhenti. Entah karena
apa. Sayang, izinkan aku pergi… sejenak saja!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih untuk waktu nya membaca blog saya :)
Mohon berikan komentar dengan bahasa yang baik yah...