Sabtu, 28 November 2015

28 November, 6 Tahun Lalu...

Dan karena itulah aku mencintaimu…

Banyak yang mungkin menganggap saya aneh, kudet, ribet, tukang ribut dan beragam anggapan lainnya. Tidak banyak orang yang mampu bertahan tahunan bersama saya, dengan segala kericuhan yang saya miliki. Tapi ya beginilah saya.
Mantan pacar saya tidak banyak. Mungkin bisa jadi karena terlalu ribetnya hubungan saya. Tidak boleh begini, tidak mau begitu. Saya tidak pernah ambil pusing. Toh kalau cinta, harusnya kekurangan itu dibicarakan, bukan? Atau mungkin apalah… apalah… begitu kan yah? Dan tak mau ambil pusing isi kata “apalah… apalah…” itu!
Tidak ada yang menarik dalam diri saya. Hmm, sampai saat inipun saya belum mengerti apa yang istimewa dari saya selain cepat ngambek, cepat baik, tiba-tiba suka teriak-teriak, tiba-tiba jadi pendiam. Hohoho… itu moody atau stress yah… Saya memang banyak kenal orang, punya banyak teman, bisa menyapa siapa saja bila bertemu di jalan, tapi sahabat saya tidak banyak. Hingga saat ini, bisa dihitung jari yang mau jadi sahabat saya. Ya karena itu tadi, tidak banyak yang mampu menerima diri saya yang kadang menyebalkan ketika sedang dinamis menghadapi suatu hal. Ketika mengutarakan mau, atau ketika tidak suka akan sesuatu.
Sampai pada suatu hari, di hari-hari yang saya anggap buruk, seseorang menghubungi saya, saling bertukar foto dan berbicara dengan video call. Kemudian 3 x 24 jam tak menutup ponselnya non-stop. Entah apa yang kami bicarakan. Sudah lupa. Kami terdiam sejenak saat saya mengajar, saat dia juga menyibukkan diri di kantornya. Seseorang itu adalah ayah dari dua buah hati saya, bersedia mendampingi saya hingga hari ini. Mungkin banyak orang yang mengenalnya berpikir, mengapa dirinya mengorbankan segalanya untuk bersama saya. Hanya dalam 3 hari memutuskan untuk memberikan jiwa raga nya untuk setia pada saya. Bahkan rela mengalami masa terpuruk bersama saya.

Buat saya…

Dia adalah orang yang paling mengerti mengenai minat saya. Walau saya adalah seorang guru, tapi saya lebih banyak antusias bercerita tentang seni padanya. Bukan tentang anak-anak di kelas saya. Saya cerita tentang bros-bros yang saya buat, keinginan saya mendalami dunia jahit-menjahit, tentang saya yang punya mimpi menjadi penulis ternama, tentang saya yang lebih banyak punya khayalan-khayalan hampa tanpa tahu, salah satu yang mana yang nantinya akan terwujud. Itu pertama kalinya saya merasa sangat diterima. Karena sejauh itu, hanya ia yang mengerti mau saya.
Dia rela bergadang bermalam-malam demi membantu saya menyelesaikan pesanan souvenir saya. Kadang dia juga selalu bertanya tentang perkembangan mengenai hobi menulis saya. Ia selalu bertanya kapan saya akan berani menyerahkan novel atau cerpen saya ke redaksi penerbit (meskipun hingga saat ini minder saya masih lebih besar dari percaya diri saya), mendukung saya, menguatkan pendapatnya kalau saya mampu mewujudkan impian saya. Untuk pertama kalinya saya merasa seseorang setelah BUNDA saya mengakui kemampuan saya yang tidak seberapa menjadi terdengar luar biasa.
Dia bisa mengikuti ritme hidup saya yang berubah-ubah. Ada masanya saya senang sekali berhari-hari berkutat di dapur masak beraneka ragam masakan, kue, camilan, minuman, yang membuat seisi rumah merasa senang, bangga, dan tidak merasa kelaparan. Dan dalam waktu singkat, hitungan detik saya berhenti dengan alasan bosan. Dan berminggu-minggu tidak ada apapun pergerakan di dapur, kemudian hanya secangkir teh dan roti selai di atas meja makan. Kadang tiba-tiba saya berjam-jam duduk diam di kamar bunda hanya karena ingin mencoba hasil karya baru, entah bros, bandana, sepatu baby atau apalah yang berkaitan dengan keterampilan satu ini. Membiarkannya sibuk bermain dengan dua buah hati saya di kamar. Dan kembali berhenti, mengumpulkan debu dalam kotak crafting saya. Alasannya sama. Sedikit bosan, dan buntu ide. Hahaha… dan Dia tetap setia menerima kekurangan saya ini.

Dia
Dia yang menerima kurang saya, dia yang tak pernah lelah akan mau saya, dia yang selalu ada ketika saya jatuh dan hampir terluka.

Dia.
Dia yang berusaha menyeimbangkan langkah saya, walau terkadang mundur beberapa langkah untuk berlari lebih jauh. Dia yang menanggapi setiap ide saya, dia yang mendengarkan setiap pengetahuan yang baru saya terima.

Dia.
Dia yang merentangkan kembali sayap saya yang telah patah karena sempat tak percaya cinta, dia yang membangunkan saya bahwa hidup itu jauh lebih indah dari mimpi...

Hari ini, kami sudah memiliki dua orang anak laki-laki yang sungguh luar biasa. Sungguh saya masih sangat bersyukur dimiliki, dan memiliki mereka :)

Ada yang pernah mengatakan, "tidak ada orang yang sudah pintar dan mahir berumah tangga, yang ada adalah yang terus berusaha belajar dan beradaptasi dengan episode kehidupan rumah tangga."

Alhamdulillah bulan November ini tidak terasa sudah memasuki usia pernikahan ke 6 tahun… tak terasa :) 6 years of marriage, and still counting, and we do still learning :)

doakan kami yaaa.. semoga menjadi keluarga yang benar benar sakinah mawaddah warahmah :) aamiin..


Tarakan, 28 November 2009 – 28 November 2015


Rabu, 25 November 2015

Selamat Hari Guru :')



Hari Guru yah...
hmmm... apa yah?

Selamat Hari Guru khusus untuk Alm. Kai Sarpin...
Selamat Hari Guru khusus untuk Abah ku tercinta Muhammad Fitrah Isdiansyah...
Selamat Hari Guru khusus untu Bunda ku (separuh nyawaku) Halimah Tussa'diah...
Selamat Hari Guru untuk Guru SDN 012 Tarakan (rekan sejawat, saudara, dan keluarga kedua ku)
Selamat Hari Guru untuk semuuuuuaaaaaaaaaaaaaaaaa Guru di manapun...
Selamat Hari Guru juga untuk para MAMA di mana saja... Guru pertama untuk semua anak mereka sebelum benar-benar ada seseorang yang disebut Guru di sekolah...

So surprise pagi ini tiba-tiba dapet kado dari siswa-siswi ku yang cantik dan ganteng nan polos...
weeewww, hari cerah bukan Ultah, tapi dapet hadiah... hihihi...

terharu banget, mereka ingat hari ini hari Guru... ngucapin selamat, sampe kasih surat segala...

tapi bukan untuk terlalu patut berbangga,
malah seharusnya sebagai bahan introspeksi diri...
Aku yang kadang selalu lepas kontrol marah-marah kalo mereka pada sibuk sendiri, tapi mereka tetap menyayangiku... tetap mengingat hari-hari spesial seperti hari ini...
menguras tenaga, pikiran serta materi mereka hanya sekedar membuat ku tersenyum bahagia...
tangan-tangan kecil mereka yang sibuk memperebutkan tanganku untuk sekedar salaman!

hari ini kelasku cukup meriah, ada banyak balon, ada banyak tulisan dan gambar karya mereka, untuk menyambut kedatanganku...

Terima kasih siswa-siswi ku...
Terima kasih telah menempatkanku di hati kalian...
Terima kasih telah mengajarkan Ibu, tentang arti terima kasih...
Semoga apa yang Ibu ajarkan selama ini, bisa berguna untuk masa depan kalian kelak... aamiin...

SELAMAT HARI GURU :)

Rabu, 18 November 2015

Gamang...

          Cukup lama ku pandangi punggung itu. Sudah lama aku terbiasa bersembunyi dibalik punggung itu. Dada bidang si pemilik punggung itu selalu menghangatkan tiap malam yang ku punya. Mengantarkan ku pada mimpi-mimpi indah yang selalu ku nanti di tiap malamnya. Ah! Baru saja subuh tadi aku masih terpesona pada punggung yang penuh khusyuk dalam untaian do’a-do’anya. Baru subuh tadi, aku masih percaya bahwa dia adalah imamku, pemimpin yang akan membawaku menuju surga-Nya. Dia yang selalu tak pernah melepaskan tiap do’anya untukku, untuk anak-anak kami.
             Tentu saja aku harus percaya padanya. 10 tahun kami jalani semua rintangan bersama. 10 tahun kami menyatukan asa agar mampu meraihnya hingga ke puncak. 10 tahun kami lalui agar dapat senyum kami selalu mengembang dan mengucap syukur pada pemberian sang Pencipta pada kami yang lebih dari cukup. 10 tahun dengan kesabaran dia membimbingku dalam tiap sujudnya.
            Ah! Lagi-lagi aku menerawang ke langit-langit kamar. Kemana kepercayaan itu menguap? Kenapa begitu cepat kepercayaan itu menghilang? Cukupkah karena alasan itu? Cukupkah yang ku lihat menjadi penyebab runtuhnya sebuah kepercayaan yang ku bangun selama ini? Kepercayaan yang ku bangun dengan begitu kokohnya! Kepercayaan yang kurajut dengan benang bernama do’a.
             Pagi ini ku lihat kekasih hatiku sedang tergesa-gesa. Sedikit ia bersuara meneriakan beberapa benda untuk minta diantarkan ke dalam mobil. Aku sudah terbiasa dengan keadaan ini. Ku lihat dia masih berkutat sebentar di depan komputer di ruang kerjanya. Komputer lama yang tak pernah mau ia singkirkan meski zaman telah berubah. Tentu saja ia punya sebuah laptop. Sambil bercakap-cakap pelan via ponsel dan membuka beberapa arsip. Teriakan putra-putri ku membuatnya lebih cepat beringsut dari layar monitor, berlari kecil seraya mengecup keningku dengan lembut, dan melambaikan tangan sambil terus berbicara dengan seseorang di ponselnya.
            Setelah mereka pergi, aku menyinggahi ruang kerja suamiku. Disana ada remah roti bakar yang berhamburan. Kopinya pun sudah habis diminum. Ku ambil tissue untuk membersihkan sisa makanan itu sambil melirik layar monitor. Kebiasaan suamiku selalu lupa mematikan komputernya bila tergesa. Tapi kali ini berbeda. Dia lupa keluar dari email pribadi dan akun facebooknya. Dahiku mengeryit heran. Suamiku? Ku ingat beberapa tahun lalu, dia mengatakan tidak begitu menyukai facebook. Dia memang memiliki akun facebook tapi enggan membukanya.
            Entahlah, apakah sang Maha Mengetahui sedang membimbing tangan dan mataku? Ku lihat kotak masuk pada emailnya dengan hati bergetar. Jantungku tidak lagi berirama serasi. Dadaku seperti menerima beberapa gumpalan asap hingga sulit bernafas teratur. Beberapa menit yang lalu sebelum dia pergi ke kantor, ada pesan untuk facebooknya. Perlahan ku buka facebooknya, ku buka pesan. Dan… kosong! Apa ini? Tertera sebuah pesan yang terakhir di terimanya tahun lalu. Mata ku terasa panas. Ada sesuatu disana? Kembali sengaja ku buka emailnya dengan lebih teliti. Ku cocokkan tanggal-tanggal pemberitahuan pesan-pesan itu. Pesan yang berlangsung sejak enam bulan yang lalu. Ya Allah… pemberitahuan itu ada. Tapi tak sedikitpun tertera di facebooknya.
            Kini Kristal itu berjatuhan. Aku menangis! Tapi untuk apa? Untuk siapa? Karena apa? Kenapa tangisan ini pun tak berhenti. Malah semakin menjadi. Kemana aku selama ini? Apa gunanya kepercayaan yang kuberikan selama ini? Ataukah hanya aku yang kurang perasa? Terbuai oleh semua sikap manis yang ia tunjukkan. Sikapku yang mana yang menyalahi hubungan kami? Hei, sudah 10 tahun, bukan?
            Dengan sekuat tenaga tetap ku buka beberapa email yang masuk bertahun-tahun lalu. Tepat dua hari sebelum pernikahan ada seorang wanita yang masih mengirimkan email padanya. Yang mengatakan hatinya masih terpaut pada suamiku dan sulit melupakannya. Mengirimkan beberapa foto dan beberapa lagu yang harus di dengarkan tiap mereka saling merindukan. Email yang berlangsung hingga usia pernikahan menginjak tahun kedua kemudian menghilang. Sungguh cantik wanita itu.
            Lalu, siapa pengirim pesan melalui facebooknya? Pria atau wanita? Kenapa harus dihapus? Ah sudahlah! Ku tutup semua yang ku lihat. Ku matikan layar monitor itu dan bergegas berbenah seperti biasa meski semua sudah hancur. Hancur berkeping-keping tak tersisa.
            Disini, di tepi tempat tidur, ku pandangi lagi sosok lelaki yang menemani hariku, membahagiakan tanpa celah. Ku beranikan diri sore tadi bertanya sepulang kantor. Dia hanya terdiam dengan mata berkaca-kaca. Ah, sudahlah! Itu sudah cukup menjadi jawaban.
            “apa yang salah padaku? Apa karena kita dijodohkan? Bukankah kau menerimanya?” tanyaku dengan mulut bergetar seraya menahan perihnya rasa sakit di hatiku. Suamiku hanya menggeleng perlahan. “sehari setelah pernikahan aku sungguh jatuh cinta padamu, kau tak sebanding dengan wanita-wanita yang selama ini kutemui. Kepadanya, aku hanya meluangkan waktu mendengar curahan hati nya” jawab suamiku, dengan menahan tangisnya. “hingga hari ini? Untuk apa?” Tanya ku lagi. Dan kali ini kami benar-benar diam.

            Aku beranjak dari duduk diamku sedari tadi. Mengemasi beberapa pakaian, ku lipat rapi ke dalam tas. Untuk pertama kali setelah 10 tahun. Ku ajak anak-anak berlibur. Aku merindukan suasana kampung yang tenang. Entah ini benar atau tidak. Aku hanya ingin sedikit melegakan nafas yang sesak, mengelus dada yang bergetar, mengatur kembali irama jantung agar degupannya senada. Mendinginkan mata yang terasa panas dan mulai menyipit karena Kristal yang tak pernah berhenti. Entah karena apa. Sayang, izinkan aku pergi… sejenak saja!

Minggu, 15 November 2015

Pergi Bersama Hujan

             Hujan…
            Biasanya Ibu begitu menyukai suara gemericik air yang menyentuh atap rumah secara teratur itu. Terdengar seperti melodi yang begitu selaras. tapi mengapa tidak begitu siang ini?
            Seperti saat ini, Ibu terus menemanimu yang sedang lelap. Entah apa yang kau mimpikan, nak? Wajah mungilmu begitu teduh. Kulit putihmu membuat Ibu tak pernah lelah mengusap rambut-rambut kecil di dahimu agar kau tetap terlelap. Tak terganggu hiruk-pikuk kesibukan di sekeliling kita.
            Dan pada tiap belaian tangan Ibu, kembali hadir bayangan senyumanmu yang tak pernah lepas dari bibir indahmu. Terkadang membuat Ibu begitu bahagia melihatnya hingga Ibu lupa, kapan terakhir kali kau menangis.
            “Ratih, coba tebak, hari ini Anggun sudah bisa apa?” Tanya tante Adel, adik semata wayang Ibu ketika baru saja Ibu pulang dari kantor. Wajahnya cukup gembira.
            “apalagi?” Tanya Ibu begitu tak sabar dan bertanya dengan mata berbinar.
            “Anggun, sini nak” panggil tante Adel pada keponakannya yang berusia 10 bulan itu.
            Sungguh bahagia melihatmu berdiri tegak, nak. Berjalan tertatih-tatih menuju ke arah Ibu sambil merentangkan tangan agar segera Ibu sambut. Andai masih mampu kau mengingatnya, nak. Baru saja Ibu ingin menyambutmu, Ayahmu datang dengan tangan terbuka, lebih dulu meraih dan menggendongmu dengan bangganya. Ah, begitu cepat waktu itu berlalu, nak. Kebahagiaan Ayah dan Ibu saat itu tak ternilai.
            Fikiran Ibu berpendar lebih jauh mengingat ketika kau baru lahir, putri kecil ku. Keriuhan suara gelak tawa dan kegembiraan begitu jelas tergambarkan di ruangan bersalin. Hampir delapan jam Ibu menahan sakit hingga akhirnya kau mau keluar untuk melihat dunia, nak. Pancaran senyuman Ayahmu yang pendiam terlihat begitu bahagia. Nenek menggendongmu seakan tak mau melepaskanmu dan membagi kebahagiaannya dengan orang lain. Tentu saja, sebab kau cucu pertama keluarga kita, nak. Ibu ingat sebulan kehamilan Ibu, Ibu sudah menyiapkan namamu Anggun Permata Delima. Bagus kan, nak? Ibu yakin kau suka dengan nama itu. Terbukti bila ada yang menanyakan namamu, dengan bangga dan tegas kau sebut, Anggun!
            Entah sudah berapa lama Ibu menikmati wajahmu yang dipenuhi mimpi hingga Ibu merasa, tante Adel mengusap punggung Ibu perlahan. Menyodorkan secangkir teh hangat untuk Ibu minum.
            “kita tunggu hujannya berhenti, ya” ujarnya kemudian berdiri menghilang entah mau kemana lagi dia.
            Kembali Ibu menatapmu, yang belum juga mau terbangun. Tak apa, hujannya juga belum reda. Biarkan Ibu terus menemanimu disini. Biarkan Ibu menikmati waktu bersamamu. Ibu senang melihat matamu, nak. Bulu matamu sungguh lentik. Kau tak perlu ke salon hanya karena ingin membuat matamu terlihat indah. Wajahmu memang menawan.
            Ibu baru ingat, minggu lalu kau mengajak Ibu ke toko buku. Sayangnya, Ibu kurang sehat. Kapan mau pergi, nak? Biasanya memang kau tak pernah pergi tanpa Ibu. Meskipun kau pergi bersama teman-temanmu, dan selalu kau mengajak Ibu. Kau selalu ingin Ibu tahu siapa teman-temanmu, apa aktivitasmu, dan apa yang kau mau.
            Pernah sekali waktu, kita menghabiskan sore di taman bersama Ayahmu. Langit tak mendung tapi hujan begitu deras turun tiba-tiba. Bukannya lari berteduh, kau malah mengajak Ayah dan Ibu berlari dan menari di tengah hujan, bak adegan film india. Dengan riangnya kau menarik tangan Ayah dan Ibu dengan paksa. Ah, Anggun! Bagaimana Ayah dan Ibu mampu menolakmu, nak? Kau selalu punya cara agar Ayah dan Ibu tak ingin membuatmu kecewa. Alhasil, kau sakit seminggu dan membuat kau harus menginap tiga hari dirumah sakit. Ibu ingat betapa marahnya nenek melihat sakitmu karena bermain hujan. Dan ternyata Ayah dan Ibu yang merestui tingkahmu itu.
            Ibu ingat, pertama kali kau membawa mobil tanpa pamit dan tidak punya SIM. Saat itu kau baru kelas satu SMA. Entah siapa yang mengajarimu menyetir. Tapi tiba-tiba saja kau membawa mobil dan pulang pukul lima sore. Untuk pertama kalinya kau pergi tanpa pamit pada Ibu. Ibu ingat betapa marahnya Ayah dan Ibu saat itu padamu. Kau tahu, Anggun? Ibu marah padamu karena Ibu khawatir. Ibu tak pernah tahu seberapa mahir kau menyetir, kapan kau mulai bisa menyetir dan kemana kau pergi tanpa pamit. Ibu gelisah, nak. Sungguh lega hati Ibu melihat kau kembali dengan selamat. Memarkir mobil dengan baik. Tapi Ibu selalu bangga pada mu, nak. Sekali itu kau lihat Ibu marah dan menangis. Tak pernah kau ulangi lagi perbuatanmu. Tak pernah lagi kau pergi tanpa pamit.
            Kali ini Ayahmu, mengusap punggung Ibu, mengagetkan Ibu yang sedang asyik menikmati suara hujan, tanpa ingin membangunkanmu.
            “bu, kita masih nunggu Tito. Ibu mau baring dulu?” tawar Ayahmu yang menarik tubuh Ibu. Tapi Ibu ingin disampingmu saja, nak.
            Anggun, kau ingat nak hari ulang tahunmu yang ke 20? Sungguh tak ada yang kau minta selain kamarmu di cat dengan warna merah muda. Kau minta lemari dan tempat tidur berwarna senada. Kau sendiri yang mencari sprei dan selimut merah muda bergambar bunga. Kau hiasi dengan benda-benda berwarna sama. Sungguh, terlihat sekali kau memang anak yang lemah lembut, nak. Warna kesukaan mu juga membuktikan hal itu. Tak terasa kau begitu cepat tumbuh menjadi gadis yang ramah. Kau juga menyukai anak-anak kecil. Silih berganti anak-anak itu kau bawa pulang ke rumah. Meramaikan rumah kita dengan kelucuan dan keluguan mereka.
            Semakin hari kau semakin cantik, nak. Wajahmu yang teduh membuat kau tak merubah diri menjadi begitu sombong. Kau semakin ramah. Kau semakin punya banyak teman. Sungguh, Ibu bangga padamu, nak. Tak sedikitpun kau membedakan teman-teman yang kau miliki.
            Entah, apakah tante Adel sedari tadi di samping Ibu atau hilir mudik, ikut menyibukkan diri ditengah keramaian. Yang Ibu ingat, dia kembali membelai punggung Ibu.
            “mama sudah datang, Ratih” ucap tante Adel kemudian beranjak meninggalkan Ibu.
            Ibu hanya menoleh, melihat nenekmu sejenak yang ternyata sudah ada disamping Ibu. Ibu melihat nenek yang mencium keningmu, membelaimu, tapi kau masih saja terlelap dalam mimpi indahmu, nak. Biarlah, bila nanti saatnya tiba, barulah kita beranjak bersama dari sini. Hujan pun belum berhenti, nak. Bahkan terasa semakin deras.
            Ibu baru ingat, saat SMP, kau juga pernah mengendarai sepeda motor dan jatuh. Kau uring-uringan karena tanganmu akan meninggalkan bekas luka.
            “bu, Anggun kan malu kalo ini kelihatan” rengekmu saat itu sambil Ibu menyuapi nasi ke mulutmu.
            “nggak apa-apa, Anggun… kamu kan pake jilbab ini, nggak ada yang tahu” Ibu berusaha menenangkanmu.
            Satu hal lagi yang membuat Ibu bangga padamu, kau tak sekalipun membantah ucapan Ibu. Kau hanya terus mengunyah makananmu dengan baik sampai menghabiskannya. Anggun, sudahkah kau puas dengan apa yang Ibu berikan, nak? Apalagi yang kau minta, nak? Beritahukan pada Ibu. Ibu akan mengabulkan selagi Ibu mampu. Seperti biasa, mintalah tanpa merengek. Cukup tunjukkan yang kau mau, nak. Ibu selalu senang saat Ibu katakan “sabar, ya… seminggu lagi” kau hanya mengangguk tersenyum dan tak lagi meminta. Menunggu tanpa menagih, hingga yang kau mau tercapai.
            Nak, Ibu tahu kau tak mau terpisah dari Ibu. Bahkan ketika kau lulus sekolah. Ibu memintamu memilih kota mana yang kau inginkan untuk melanjutkan kuliah. Kau tetap memilih disini, bersama Ibu. Disamping Ayah dan Ibu. Kau selalu bilang, tak bisa merawat diri sendiri saat sedang sakit. Kau selalu butuh Ibu untuk membangunkanmu saat subuh. Padahal Ibu tahu, kau sudah bangun ketika adzan subuh berkumandang. Tapi kau lebih memilih bangun dengan suara Ibu yang mengganggu tidurmu.
            Kali ini, Ibu tak akan membangunkanmu, meski Ibu ingin. Tak tega melihat tidur pulasmu. Ibu hanya mampu mengusap dahimu. Hujan diluar mulai reda, nak. Ibu baru ingat kau hanya makan roti pagi tadi sebelum berangkat ke kantor. Ibu sudah mengajakmu sarapan nasi, kenapa kau tidak mau nak? Sudah tidak enakkah masakan Ibu?
            “bu, Tito sudah sampai” suara Ayah yang terdengar serak membuyarkan semua kenangan Ibu bersamamu.
            Tito menghambur memeluk Ibu. Tangisanpun pecah. Adikmu sudah datang, Anggun. Lihatlah, nak. Kau sempat menhubunginya pagi tadi untuk menanyakan skripsinya. Dia datang untukmu, nak.
            “kenapa bisa, bu?” Tanya Tito dalam isak tangis.
            Ibu baru sadar, begitu banyak orang berkumpul dirumah kita. Tenda diluar sudah terpasang entah kapan. Adzan dzuhur pun sudah berkumandang satu jam yang lalu. Kembali Ibu mengingat kejadian tadi pagi yang begitu cepat. Kau menuruni tangga dari kamarmu, bersiap menuju kantor. Entah kenapa kakimu bisa terkilir dan membuatmu terpeleset, nak? Kepalamu terbentur. Tak ada darah dan kau tak sadarkan diri. Ayah dan Ibu membawamu segera ke rumah sakit. Dan kenapa kau tak mau bangun?
            Ibu ingat tadi pagi, kau masih sarapan sembari bercanda dengan Ayah. Tertawa riang. Pagi tadi kau memeluk hangat Ayah dan Ibu. Hal yang tak biasa kau lakukan sebelum pergi ke kantor. Mengecup kening Ibu kemudian menelpon Tito di ruang tengah. Entah apa yang kau bicarakan dengan adik kesayanganmu itu. Yang Ibu ingat samar-samar, kau ingin Tito segera pulang. Menemanimu dirumah, menemani Ibu karena rumah begitu sepi.
            Ah, Anggunku! Inikah pertanda yang kau berikan, nak? Bisakah kita mengulang waktu sejenak, nak? Ibu ingin menemanimu ke toko buku, nak. Apa yang ingin kau cari, nak? Andai kau bilang, dari kemarin kau ingin Tito pulang, akan Ibu kirimkan uang tiketnya, nak. Kenapa kau pergi dan tak pamit, nak? Bukankah kau takut Ibu marah dan menangis karena kau pergi tanpa pamit? Lalu kenapa kau lakukan lagi? Kenapa Anggun?
            Kembali Ibu usap keningmu. Kali ini Ibu mencium keningmu. Untuk yang terakhir. Dingin. Sakitkah, nak? Ibu ingin membelai pipi mu yang lembut. Dan semua terasa seperti mimpi ketika Ibu membuka mata. Tante Adel bilang, Ibu sudah empat kali tak sadarkan diri. Benarkah? Salahkah Ibu yang begitu kaget dengan kepergianmu, nak? Salahkah Ibu yang begitu terpuruk karena Ibu tak tahu kau akan meninggalkan Ibu? Kenapa, nak? Kenapa Anggun? Kenapa pergi tanpa pamit?
            Satu persatu keluarga dan kerabat mencium keningmu. Mengikhlaskan perjalananmu menuju syurga Allah SWT. Anggun, lihatlah Ayahmu, nak. Dua puluh delapan tahun Ibu bersamanya, baru kali ini Ibu melihat Ayahmu terpuruk. Menangis sejadi-jadinya. Airmata yang ia tahan sedari pagi tumpah ketika melihat wajah mungilmu yang begitu nyenyak. Lihatlah, Anggun. Bahkan rasa sakitnya mungkin lebih perih dari orang yang patah hati. Ah, Anggun! Putri kesayangan Ibu.
            Adzan ashar berkumandang dan langit telah cerah. Seakan sudah memberi jalan agar kau bisa keluar dari rumah dengan tenang.
            “pemakamannya sudah, siap” ujar seseorang yang entah siapa, memberitahukan pada Ayah. Ibu hanya mampu melihat Ayah mengangguk.
            Kemudian tubuhmu diangkat menuju ruang belakang. Dibersihkan dan dimandikan. Dan tiba saatnya kau harus ditutup dengan baik. Kini kau berpakaian lengkap dan telah siap untuk menghadap Allah SWT.
            Anggun Permata Delima. Sepertinya baru kemarin Ibu merasa mengandungmu. Anggun Permata Delima. Sepertinya baru kemarin Ibu mendengar riang tawa ruangan rumah sakit bersalin menyambut kehadiranmu. Anggun permata Delima. Sepertinya baru terasa kemarin kau tertatih-tatih menuju ke arah Ayah dan Ibu dengan kaki mungilmu. Anggun Permata Delima. Sepertinya baru kemarin celoteh bibir tipismu memanggilku ‘Ibu’. Ah, Anggun Permata Delima-ku. Hari ini kau pergi memenuhi janjimu, nak.
            Begitu ramai rumah ini mengiringi kepergianmu. Kaki Ibu terasa seperti tak memijak bumi. Ibu rasakan hangat tangan tante Adel. Sungguh, Ibu tidak sendiri dalam kesedihan ini. Ada tante Adel yang tentunya juga sangat bersedih. Dia yang menjagamu sepanjang pagi hingga sore saat Ayah dan Ibu bekerja. Dia yang menyuapimu, menggantikan peran Ibu. Tante Adel yang mengajarimu bernyanyi, berjalan hingga kau suka menari. Dia yang mengajarimu mengenal hujan. Dia yang membuatmu suka wangi tanah yang terkena gemericik air hujan. Dia pula yang selalu menggendongmu melihat pelangi. Dia tahu kau begitu menantikan pelangi-pelangi itu muncul.
            Hari ini pun hujan tetap menemanimu, nak. Sekilas Ibu melihat segerombolan orang mengantarkanmu menuju masjid. Menshalatkanmu. Mendo’akanmu. Samar Ibu mendengar beberapa orang membicarakan kebaikanmu, keramahanmu. Ah, semoga hanya kebaikanmu yang selalu teringat.
            Ibu mendo’akanmu dari sini, nak. Selamat jalan, sayang. Semoga Allah menempatkan dirimu ditempat terindah. Bertemankan bidadari-bidadari syurga-Nya. Biarlah tetesan airmata ini mengalir dan berubah menjadi butiran-butiran do’a dan keikhlasan. Tidurlah dengan tenang di sisi Allah SWT, nak. Aamiin.
            Kembali Ibu berbalik setelah kau pergi menghilang bersama segerombolan orang-orang yang mengantarkan mu. Dikamarmu, tinggal Ibu, tante Adel dan nenek. Menatap kamar kosong yang begitu rapi dan bersih. Aroma jeruk segar memenuhi ruangan. Aroma kesukaanmu. Foto-foto mu terpampang jelas. Boneka-boneka kesayanganmu tersusun rapi. Mungkinkan kau sudah tahu akan pergi, nak? Semua kau tata rapi agar mudah kami mencari yang kami perlukan. Semua tanpa debu. Kau memang gadis yang rajin, nak. Bahkan mukenamu yang biasanya kau gantung, sudah kau lipat rapi dan kau letakkan disudut tempat tidur.
            “yang tabah ya, nak” nenek begitu tegar. Menenangkan Ibu. Memeluk hangat.
            Terlalu singkat rasanya, nak. Dua puluh enam tahun. Rasanya belum puas Ibu merawatmu. Memanjakanmu. Belum banyak yang Ibu berikan. Sekarang hanya do’a yang mampu Ibu berikan, nak. Benarkah hati ibu telah siap kehilanganmu selamanya, nak? Sepertinya belum. Tapi ibu akan belajar ikhlas. Ibu mendengar permintaan nenekmu lirih. “ikhlas, Ratih. Supaya Anggun tenang disana”
            “Inshaa Allah, Ibu ikhlas, nak… Inshaa Allah”
            “apa mau disiapkan sekarang?” Tanya tante Adel. Tante Adel ingin merapikan semua peninggalanmu untuk disedekahkan. Agar bisa menjadi amal terakhir untukmu di alam sana.
            “jangan dulu… bisakah dua atau tiga hari lagi, Del? Aku masih ingin melihat kamar ini tetap seperti ini… sejenak saja” Ibu meminta karena sungguh Ibu belum sanggup, nak. Mohon maklumi ini semua.
            Terlihat foto mu bersama Tito yang begitu mesra. Usiamu yang hanya berjarak dua tahun dengan Tito membuat kalian terlihat seperti seusia. Kalian begitu bersahabat, begitu dekat. Tak seharipun kalian lewatkan tanpa berkomunikasi. Bahkan Tito lebih sering menghubungimu, daripada menghubungi Ibu.
            Kau ingat, nak. Wajah lugu mu begitu riang melihat Tito kecil yang baru saja lahir. Kaki mungilmu berlompatan kesana kemari, sibuk ingin menggedong Tito kecil. Mencium tanpa lelah. Lucu wajahmu ketika tertidur disamping Tito setelah seharian bermain dengannya. Tak sekalipun kau terlihat iri ketika Ibu sibuk mengurusi Tito. Bahkan kau pun sibuk ingin menggantikan ibu memandikan Tito. Tak sekalipun hingga saat terakhirmu pagi tadi, ada suara menggerutu pada Tito.
            Sungguh Ibu masih belum percaya yang terjadi hari ini, nak. Tadi pagi senyum manismu menghiasi seluruh ruangan ini. Benarkah kau pergi meninggalkan Ibu selamanya? Ah, Anggun… Ibu tak berfikir tentang hal terburuk sekalipun! Ibu hanya berfikir kau hanya sejenak tak sadarkan diri, nak. Ibu hanya berfikir sebentar lagi kau akan terbangun dari pingsanmu. Bukankah kau hanya sekedar terjatuh, nak?
            Terasa pijatan hangat tangan tante Adel di tubuh Ibu. Entah sejak kapan Ibu terbaring di kamar mu yang nyaman ini. Entah kapan Ibu kembali tak sadarkan diri. Ibu hanya melihat, Tito sudah ada disamping Ibu, menggenggam tangan Ibu. Sudah tenangkah di sana, nak? Bagaimana tempatmu yang baru? Nyaman kah, putri kecil ku? Sungguh tak sekalipun melintas dibenak Ibu, kau pergi lebih dulu sebelum Ibu menua. Jaga dirimu disana, sayang. Jangan takut, nak. Ibu akan mendo’akanmu dari sini agar tempat terakhirmu akan selalu terang, hangat dan nyaman.
            Ya Allah, tempatkan putriku di tempat terindah-Mu. Terima semua amal ibadah dan kebaikannya. Jauhkan Anggun dari siksa kubur-Mu ya Rabb. Aamiin.
            Gemericik hujan malam ini kembali menemani Ibu. Tenanglah, nak. Jangan bimbangkan Ibu. Ibu tak sendiri menikmati hujan meski tanpamu. Seperti pintamu, ada Tito disini yang masih sedari tadi setia menggenggam tangan Ibu. Ada tante Adel yang setia menyiapkan teh hangat untuk Ibu. Ada nenek dan Ayah yang masih melantukan do’a bersama kerabat yang lain untukmu. Semoga do’a itu menghangatkanmu di sana, nak. Ibu masih di sini. Di kamar mu yang nyaman, menikmati hujan disudut jendela. Namun kali ini, tanpa pelangi.


Kematian adalah pasti. Tidak ada tawar menawar. Entah sakit ataupun mendadak bak petir yang menggelegar! Seperti barang berharga yang terampas tiba-tiba dari tangan kita, dari hati kita.  Entah siap atau tidak, kita tetap harus berupaya menerima dan mengikhlaskannya. Semoga kita selalu mampu beristiqomah dalam menjalani segala hal yang ditakdirkan Allah SWT. Agar kita bisa kembali berhimpun di syurga-Nya yang kekal. Aamiin.